a date with miss valentine

Bukanlah suatu dosa jika seorang lelaki berada di dalam sebuah kereta dan bertemu dengan seorang wanita lalu mendatanginya untuk sekedar mengobrol.

Sore itu aku mengalaminya. Tidak terlalu banyak penumpang di dalam kereta dan kau harus berpegangan jika tidak mau terjatuh karena guncangan di dalam kereta. Tetapi hal itu menjadi berbeda ketika aku melihat seorang wanita yang tidak jatuh meskipun ia tidak berpegangan pada apapun. Ia hanya membawa payung yang ia peluk di dadanya dengan menggunakan kedua tangannya. Ia memandang ke luar jendela, entah apa yang dilihatnya di luar sana. Wanita yang tidak terpengaruh goncangan kereta meski tidak berpegangan pada apapun bukanlah hal yang aneh, karena aku tahu kalau ia adalah Miss Valentine.

Sore hari adalah saat dimana kita akan sedikit terdiam, mengistirahatkan diri dari segala bentuk kegiatan yang telah dilakukan. Tidak heran kereta menjadi tempat yang sunyi ketika semua orang hanya terdiam menatap pemandangan yang berkelebat cepat di luar jendela. Berbeda denganku, rasanya aku ingin memecah keheningan dengan berbicara dengan seseorang. Aku ingin mengobrol, tentang apa saja, menumpahkan apa yang ada di dalam otak ini kepada seseorang dalam bentuk verbal.

Maka aku mendatangi Miss Valentine. “Hai, namaku Remy Martin, boleh berkenalan?” tanyaku dengan singkat.

“Miss Valentine,” ujarnya tak kalah singkat.

“Miss Valentine? Aku kira Baroque Works sudah bubar.”

“Memang sudah bubar.”

“Dan kau tetap menggunakan nama Miss Valentine? tidakkah itu berisiko?”

“Tidak, angkatan laut sepertinya sudah tidak berminat. Apalagi Crocodile masih dipenjara di Impel Down.”

Saat itu guncangan kereta membuatku sedikit hilang keseimbangan sehingga aku hampir jatuh. Tetapi aku perhatikan Miss Valentine tidak bergerak sedikitpun. “Sekarang berapa kilogram? Sepertinya enak sekali tidak perlu khawatir jatuh.”

“Tidak sopan menanyakan berat badan seorang wanita,” ujarnya diikuti senyum yang menantang.

“Oh, maaf. Pastinya beratmu sekarang tidak jauh beda dengan beratmu yang sebenarnya,” aku berusaha menggodanya.

“Dasar kurang ajar,” ujarnya sambil tersenyum. Lalu setelah itu kami mengobrol dan akhirnya memutuskan untuk bertemu di sebuah kafe di keesokan harinya. Itu adalah sebuah kencan.

Aku sampai duluan di kafe tersebut. Sebuah kafe biasa di tengah kota. Nyala lampu yang temaram dipadukan dengan warna dinding yang lembut membuatku merasa nyaman. Belum lagi aroma kopi dan vanilla yang membuatku merasa berada di tempat yang tidak asing, meski aku baru pertama kali datang ke kafe ini. Aku duduk dekat jendela agar bisa melihat jika Miss Valentine sudah datang. Tidak berapa lama ia pun tiba.

Lalu ia memesan lemon tea dan blackforest. Sedangkan aku hanya memesan segelas kopi.

“Bagaimana keadaan Spiders Cafe sekarang?” tanyaku membuka obrolan.

“Semuanya berjalan dengan baik. Usaha kami bisa dibilang sukses kali ini. Paula terlihat sangat bahagia.”

“Bagaimana dengan kamu sendiri?”

“Aku menikmati pekerjaanku sekarang. Malahan aku merasa kalau aku benar-benar cocok dengan pekerjaanku sekarang dibandingkan ketika masih menjadi agen di Baroque Works. Ternyata aku lebih suka menuangkan krim kocok dibandingkan menumpahkan darah. Padahal semula aku menganggap pekerjaan menumpahkan darah sangat menyenangkan.”

Lalu pesanan kamipun diantarkan oleh pelayan. Miss Valentine langsung mencoba blackforest pesanannya, dan seolah memakan sesuatu yang sangat liat, Miss Valentine mengunyah blackforest tersebut dengan perlahan. “Lumayan, meskipun tidak lebih baik dari blackforest kami,” ujarnya pelan.

Setelah itu kamipun membicarakan banyak hal, mulai dari penggunaan jumlah gula yang tepat pada sebuah kue hingga jumlah populasi kucing laut di Arabasta. Hingga akhirnya ia bertanya mengenai pekerjaanku sekarang.

“Kau bekerja di angkatan laut kan, bagaimana keadaanmu sekarang?” tanyanya padaku.

“Keadaan di angkatan laut sekarang sangat tidak menentu. Entah apa yang dipikirkan para petinggi saat ini. Sepertinya arti dari keadilan dan kebenaran menjadi tidak jelas. Aku merasa kalau hukum yang dibuat angkatan laut terdengar tidak masuk akal. Malahan kadang aku merasa tindakan bajak laut merupakan sesuatu yang benar, kau tahu kan aksi kelompok bajak laut Luffy si topi jerami di Arabasta?”

“Mana mungkin aku tidak tahu, ia yang membuat kami seperti sekarang. Mungkin aku harus berterimakasih padanya sekarang, hihi…”

“Lalu aku menjadi tidak yakin dengan angkatan laut, sehingga saat ini aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Sebenarnya seperti apakah itu keadilan.”

Miss Valentine menatapku cukup lama. “Memang manusia tidak berhak membuat hukum. Karena mereka tidak akan bisa adil secara menyeluruh, setiap orang memiliki keadilannya sendiri. Yang harus kau lakukan adalah yakin dengan keadilanmu sendiri.”

“Mudah bagimu berbicara begitu Miss Valentine. Tetapi kau tidak tahu keadaan di angkatan laut saat ini. Saat korupsi dan bajak laut meraja lela. Aku tidak tahu seperti apa keadilanku dan bagaimana mewujudkannya. Aku sepertinya hanya akan menyerah pada keadaan, aku tidak ingin dipecat dari angkatan laut.”

Saat itu Miss Valentine tertawa kecil. “Sepertinya kau harus berhadapan dengan Monkey D. Luffy sekali-sekali. Kau akan melihat bagaimana mengerikannya seseorang yang yakin akan impian dan keadilannya. Meski ia bodoh sekalipun. Aku benci melihat pengecut lemah seperti dirimu.”

“Huh, terserah apa katamu. Mungkin aku memang lemah. Tetapi tahu apa kau tentang diriku? bahkan kita baru bertemu saat ini.” Ujarku sedikit mulai emosi.

“Kita belum tahu kalau belum dicoba. Bagaimana kalau kau adu panco denganku untuk membuktikan apakah kau lemah atau tidak?” ujar Miss Valentine sembari menaruh tangannya di atas meja dengan posisi panco.

Aku tahu aku tidak akan menang melawannya. “Aku menolak, bagaimana mungkin aku menang melawanmu.”

“Aku sudah bilang, kita tidak akan tahu kalau tidak mencobanya. Atau kau mau terus terpuruk di dalam kepengecutanmu?” tanyanya dengan senyum yang memprovokasi.

Akhirnya aku mau juga beradu panco dengannya. Aku sudah tidak mau tahu apa yang terjadi. Ada sesuatu hal di dalam diriku yang membuatku merasa kalau aku harus melakukannya.

Maka aku menggenggam tangannya dalam posisi panco. “Siap?” tanyanya. Aku mengangguk, siap atau tidak. “Mulai!”

Tangannya terasa sangat berat. Aku tidak bisa menggerakkannya satu sentimeter pun. Miss Valentine masih tetap tersenyum, sepertinya ini bukan apa-apa untuk dia. Setelah tidak bergerak selama beberapa menit ia mulai menyerangku. Tangannya yang sangat berat itu mulai bergerak mendorong tanganku. Tetapi aku tidak mau kalah begitu saja. Aku mencoba bertahan.

Rasanya sudah lama aku tidak mengeluarkan tenaga sebesar ini. Mengeluarkan seluruh tenaga yang ada di dalam diri. Rasanya sungguh aneh, seperti ada suatu gelombang yang mengalir keluar dari dalam tubuhku. Segala hal yang selama ini tertahan dalam hati rasanya seperti menguap. Segalanya terasa ringan sementara diriku mengeluarkan semua tenaga yang tersisa.

Saat itu entah sudah berapa kilogram berat tubuh Miss Valentine. Tetapi aku tidak peduli, aku tidak mau kalah. Lalu yang terjadi berikutnya adalah meja kafe tersebut sudah tidak dapat menahan beban lagi. Meja itu terbelah dua dan kami terjatuh. Karena Miss Valentine hanya mengandalkan berat tubuhnya, maka sewaktu tangan kami berdua di udara adalah saat tangannya tidak memiliki tumpuan. Lalu tanganku dapat mendorong tangannya sehingga sewaktu berada di lantai tanganku berada di atas tangannya. Tangan kanan Miss Valentine menghujam lantai hingga lantai tersebut retak. Aku menang.

“Lihat, tidak ada yang tidak mungkin,” ujar Miss Valentine. Saat itu aku langsung terbaring. Seluruh tubuhku berkeringat. Perasaanku saat itu sungguh ringan, seakan semua beban lepas bersamaan dengan hancurnya lantai kafe.

Saat aku akan berdiri Miss Valentine manahanku dengan tangannya, seketika itu juga ia mencium bibirku. Sebuah ciuman yang dalam, meski hanya sekitar dua detik. Lalu ia pergi meninggalkanku yang masih terbaring. Setelah ia membayar semua kerugian ia pun keluar dari kafe dan pergi entah ke mana.

Aku bersyukur kencan dengan Miss Valentine.

——————————————————–

keterangan: Miss Valentine memiliki kekuatan buah iblis, yaitu buah kilo-kilo (atau kiro-kiro) yang dapat membuat ia mengatur berat badannya sesuka hati.

karena ini adalah spin-off dari kisah One Piece, maka tentu saja temanya adalah meraih mimpi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s