dua detik

Sudah tiga buah puntung rokok berada di bawah kakiku. Sembari menghisap yang keempat, aku mulai gelisah. Sudah lewat hampir lima belas menit dari waktu yang dijanjikan. Di sebuah perempatan jalan raya itu aku berdiri, menunggu. Menunggu membuat seluruh inderaku menjadi aktif untuk mencari sesuatu yang menarik untuk keluar dari kebosanan ini. Sementara inderaku aktif mencari, tidak terbayangkan olehku ada sebuah momen dua detik yang berhasil menarik indera penglihatanku untuk kemudian menarikku keluar dari kebosanan. Hanya dua detik.

Tangan tersebut diangkatnya, sebuah gerakan yang penuh dengan isyarat dan makna. Cukup untuk membuat seorang bocah pergi meninggalkannya dengan raut kecewa. Itulah momen dua detik tersebut. Seorang gadis di dalam mobilnya yang mewah menolak memberikan uang kepada seorang bocah pengamen yang bahkan belum sempat mengamenkan dirinya. Terjadi dua detik di depan mataku. Lalu kenapa momen tersebut menjadi begitu menarik? Bahkan momen tersebut hampir selalu terjadi di sebuah perempatan dengan pengamen di sana.

Seorang gadis, terlihat glamor di dalam mobilnya yang berwarna merah. Meskipun ia memakai kacamata hitam, aku tahu kalau ia tetap menatap ke depan sewaktu mengangkat tangannya untuk menolak pengamen tersebut. Tangannya terlihat menarik dengan jari-jari yang lentik dan sebuah jam tangan kecil yang menghiasi tangan tersebut. Wajahnya tidak begitu jelas, tetapi terlihat rambutnya sebahu dengan poni yang menutupi keningnya. Hanya sebatas itu profil yang kulihat secara inderawi. Tetapi sedikitnya data yang dihimpun oleh instrumen yang disebut alat indera membuat instrumen lain bernama imajinasi bangkit dari penjara rasionalitas untuk mengembangkan profil dari gadis tersebut. Spontan, aku mulai berkhayal.

Pastinya seorang gadis cantik. Ya, aku tidak ingin membayangkan seorang wanita jelek dan memiliki masalah bau badan untuk memenuhi khayalanku, membuatku mual. Aku membayangkan seorang gadis jaman sekarang. Tipe yang selalu berusaha menjaga image cantiknya dengan segala daya dan upaya. Berhasil atau tidak yang penting ia merasa cantik, dan akan ada satu atau dua lelaki yang mengatakan kalau dirinya cantik, tidak peduli bohong atau tidak. Gadis tersebut masih muda, mungkin seorang mahasiswi. Seorang yang cerdas, tetapi memilih untuk tidak menggali potensinya tersebut dan lebih memilih berusaha untuk menggali potensinya untuk memiliki tiga selingkuhan atau lebih. Sebuah prestasi besar menurutnya, tetapi kemudian akan disesalinya karena ia tidak berhasil mendapatkan yang keempat ketika pacarnya ternyata sudah mempunyai empat wanita lain. Lalu terbayang di kursi sebelahnya ada tasnya yang penuh dengan buku-buku perkuliahan yang bersanding dengan alat-alat kosmetik yang akan membuatnya merasa cantik, dan buku-buku tersebut bisa berfungsi sebagai aksesoris tambahan yang akan menambah titelnya “si cantik yang intelek”.

Sementara itu, sepertinya kontras sekali dengan lawan interaksi dua detiknya, seorang bocah pengamen yang lusuh dan berkeringat. Kutaksir usianya sekitar 12 tahun kurang sedikit. Fisik khas pengamen, tidak perlu disebutkan. Tetapi untuk seorang pengamen, bajunya terlihat cukup bersih, baju baru mungkin? Tetapi celananya mungkin sudah tiga bulan tidak dicuci––ternyata bocah ini tidak terlalu fashionable. Ada yang aneh, ia tidak membawa alat musik. Mungkin ia hanya bernyanyi saja. Apakah suaranya bagus? Tidak, aku yakin anak yang dipaksa bernyanyi oleh teman-temannya di suatu pesta ulang tahun akan bersuara lebih bagus ketimbang dia. Aku membayangkan suara serak dengan volume naik turun dan nada tidak jelas akan keluar dari mulutnya, dan sambil bernyanyi ia akan mengeluarkan pandangan memelas. Terlihat jelas kombinasi keduanya akan menghasilkan kesimpulan kalau pikirannya hanya berorientasi pada apakah ia akan cukup beruntung untuk mendapatkan sekeping koin logam atau bahkan secarik kertas yang disebut uang.

Sewaktu memikirkan uang, jadi terbersit olehku siapa pencipta uang, kalau bisa bertemu aku akan meminta agar uang yang ia ciptakan merupakan sesuatu yang organik, jadi uang akan memiliki waktu kadaluarsa dan dapat menjadi busuk. Pasti saat ini dompet akan dilengkapi mesin pendingin dan sulit dibawa-bawa.

Kembali pada si bocah, aku yakin kalau tipe anak seperti ini tidak akan mengucapkan terima kasih meski diberi uang. Dengan wajah pura-pura datar, hatinya berdansa memikirkan bodohnya orang yang memberinya uang. Terlebih ketika tidak diberi uang, masih dengan wajah pura-pura datar ia akan menyumpahi orang tersebut dalam hatinya dan menjadikannya musuh seumur hidup. Dan saat itu mungkin ia sudah menyumpahi agar wanita tersebut tidak akan hamil oleh suami sahnya kelak. Kejam memang, tetapi dirinya sudah merasa kalau orang lainlah yang paling kejam pada dirinya dengan tidak memberinya uang.

Tak terasa batang rokokku yang keempat sudah mendekati akhir masa hisapnya, kubuang lalu kukeluarkan batang yang kelima. Sambil berusaha menyalakannya di tengah terpaan angin, aku berpikir. Siapa sebenarnya yang beruntung di antara kedua manusia yang terlibat interaksi dua detik tersebut?

Aku yakin jika aku bertanya kepada orang-orang yang berpikir menggunakan logika ditambah dengan perasaan sok nasionalis mereka akan menjawab: “Ya cewek itulah, dia sudah beruntung dengan tidak memberikan uangnya kepada pengamen, karena tindakan itu merupakan tindakan tidak mendidik yang membuat generasi muda bangsa kita menjadi… bla bla bla…” Begitu kira-kira kata mereka, yang pasti diujung pendapatnya dia akan berkata kalau wanita itu beruntung karena ia juga cantik dan kaya. Tetapi apa yang terjadi kalau aku bertanya kepada orang yang sok pintar dan sok spiritualis, mereka pasti akan menjawab: “Ya bocah itulah, dia sudah beruntung, karena mungkin saja harta si wanita tidak halal karena berasal dari bapaknya yang korupsi, dan beruntunglah bocah tersebut karena ia… bla bla bla…” Dilanjutkan dengan sebuah omong kosong filsafat yang panjang yang diujung omongannya dia akan berkata: “Eh, bener ga sih, kata-kata gua?”

Aku jadi tersenyum sendiri. Tak pernah terbayangkan olehku sebuah momen dua detik akan menghasilkan pemikiran yang sedemikian rupa, bahkan sebuah ambivalensi dalam pikiranku mengenai siapa yang paling beruntung di antara dua manusia tadi. Tetapi bila semuanya menjadi relatif, pasti itu adalah masalah nilai. Nilai apa yang digunakan untuk memaknakan interaksi tersebut. Bila nilai diabaikan akan terjadi situasi relatif, tidak ada yang beruntung dan tidak beruntung. Mereka berdua adalah manusia, manusia selalu punya masalahnya sendiri dan selalu memiliki alasan untuk iri kepada keadaan orang lain.

Bisa saja wanita tersebut sedang terjebak suatu masalah, dirinya tengah hamil di luar nikah. Beritanya sudah menyebar di antara teman-temannya dan ia merasa malu sampai ingin mati. Dan saat itu ia sedang dalam perjalanan untuk mengaborsi bayinya, dengan kacamata hitam yang menutupi matanya yang bengkak oleh air mata. Pada momen dua detik itu dalam hatinya ia berkata betapa beruntungnya menjadi pengamen, seperti hidup tanpa beban, hanya dengan bernyanyi seadanya sudah mendapatkan penghasilan. Lain dengan pengamen tersebut, bisa saja pada momen dua detik itu ia berpikir betapa beruntungnya wanita itu, punya banyak uang, dan pastinya mampu untuk membeli segalon lem aibon, ia lagi butuh lem agar bisa teler, dan ia merasa kalau ia akan mati kalau tidak segera mendapatkan lem tersebut. Dan percayalah kalau tingkatan beban masalah yang mereka rasakan itu sama.

Sementara aku jadi asyik memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain pada hidup mereka, abu rokokku sudah menjadi panjang, menunggu adanya gaya dari luar untuk kemudian menghambur ke udara bebas dan meninggalkan ujung rokok yang merah membara. Kuhentak dengan jari tengahku dan berterbanganlah mereka. Sesaat kemudian datanglah seorang yang kutunggu tersebut. Wajahnya terlihat tegang karena mengira aku akan marah-marah karena ia terlambat. Tetapi aku hanya berkata singkat, “Kok udah dateng lagi sih? Cepet Banget.” Wajahnya bingung, ekspresinya membuatku ingin tertawa. Lalu ia bertanya padaku, “Kamu nyindir aku ya? Maaf deh, emang kamu udah nunggu aku berapa lama?”. Aku menjawab singkat dengan pasti, “Cuma dua detik kok.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s