Gigolo, aku?

Lalu ia mengerang dengan pilu setelah meneriakkan nama seorang laki-laki berkali-kali. Bukan namaku, sebuah nama yang tidak pernah kudengar. Setelah ia mengeluarkan semuanya ia terkulai lemas di sebelahku. Matanya menerawang, entah apa yang ia lihat atau pikirkan. Lalu ia mulai mengeluarkan air mata. Tak berapa lama matanya terpejam. Lalu terdengar napasnya mulai teratur, ia tertidur.

Aku bangkit dari tempat tidur. Duduk sejenak di pinggir tempat tidur. Aku belum mencapai klimaks, tapi aku tak peduli. Setelah menyeka keringat di dahi aku berdiri. Kupandangi sejenak tubuh yang ada di depanku, tubuh yang sedang terkulai tak bergerak di tempat tidur. Tubuhnya di keremangan kamar hotel itu terlihat begitu sempurna, tanpa cacat sedikitpun. Dan aku jadi merasa berdosa karena baru saja memasukinya. Wajahnya terlihat lebih cantik dalam kegelapan seperti ini, seperti wajah seorang anak gadis berusia 13 tahun yang belum pernah terluka.

Kemudian aku berjalan ke arah sofa dan duduk di situ. Masih dalam keadaan telanjang aku meneguk sisa wiski yang ia taruh di meja, langsung dari botol. Wiski tersebut tidak kuhabiskan, aku menumpahkan sisanya yang tinggal sedikit di karpet. “Ups,” kataku dalam hati. Entah kenapa aku melakukannya, hanya saja rasanya aku harus melakukannya. Aku termenung sejenak memejamkan mata dan menyandarkan kepalaku di sofa tersebut. Aku seorang gigolo, diriku membatin. Aku tidak peduli apa yang terjadi sebelumnya atau apa masalahnya. Ia datang kepadaku  dan ia  membutuhkanku, lalu aku memberi apa yang ia inginkan. Hanya itu saja. Sejak semula tidak ada yang namanya cinta. Apa yang ia cari tidak benar-benar ada dalam tubuhku.

Seharusnya begitu. Seharusnya aku hanyalah seorang gigolo untuknya. Seharusnya aku tidak pernah bersentuhan dengan hal bernama cinta. Semula aku begitu yakin, cinta hanya akan menghalangi hubunganku dengan wanita. Oleh karena itu aku tidak pernah mengikutkan cinta dalam hubunganku dengan wanita, tidak pernah. Hal bernama cinta sudah kubuang jauh-jauh dalam kehidupanku. Semuanya hanya permainan. Peraturannya sederhana, tidak ada yang terluka ataupun tersakiti, semuanya senang. Tidak ada sesuatupun yang membelenggu, seperti hal menggelikan bernama cinta.

Tetapi hari ini aku begitu bingung. Aku sudah lupa seperti apa cinta. Sehingga aku tidak mengerti sesuatu yang kini menggelantung di dadaku, terasa sesak. Aku seperti benci akan sesuatu, sebegitu bencinya sampai aku menumpahkan wiski ke atas karpet. Aku dapat langsung pergi dari sini, meninggalkannya. Tetapi rasanya sungguh berat, bahkan seperti ada rantai tidak terlihat yang mengikatku di sofa ini. Aku tak bisa pergi, sesuatu menghalangiku. Ya, itu adalah kehadirannya. Kehadirannya di kamar ini terasa begitu menekanku sekarang. Menekan dengan suatu perasaan yang asing. Aku seperti berada dalam suatu medan magnet yang kuat yang dapat menarikku menuju suatu inti yang tidak terbayangkan. Aku takut. Aku seperti bertemu musuh bebuyutan yang kemunculannya tiba-tiba dan sangat tidak kuinginkan. Cinta kembali menusukku. Kali ini lebih dalam. Karena aku tidak pernah menduga kemunculannya. Aku sudah kalah. Betul-betul telak. Jangan wanita ini. Mungkin apabila dengan wanita yang lain tidak akan terasa begini sakit. Tetapi tidak dengan wanita yang sewaktu bersetubuh denganku kemudian meneriakkan nama seorang laki-laki lain berkali-kali kemudian mencapai klimaks lalu menangis, tidak dengan wanita ini. Aku tidak ingin meninggalkannya di sini sendirian.

Lalu bagaimana sekarang? Cinta selalu membuatmu bingung. Begitulah. Kemudian aku berdiri mengambil rokok dan geretan di saku celanaku. Karena merasa sedikit kedinginan aku memakai kimono hotel yang kuambil dari kamar mandi. Kemudian aku berjalan ke arah jendela, membuka sedikit celah lalu mulai merokok.

Ia bukanlah wanita yang paling cantik. Sebelum berhubungan dengan dia aku sudah pernah berhubungan dan tidur dengan wanita yang lebih cantik, bahkan mungkin ialah yang paling tidak cantik dibandingkan dengan wanita-wanita yang pernah tidur denganku. Aku selalu melihat mereka dari wajah, kemudian bentuk tubuh. Lalu setelah tidur dengan mereka beberapa kali sampai aku bosan dengan mereka, maka game over, permainan selesai. Karena sejak semula aku sudah mengatakan kalau ini hanya permainan, mereka tidak mempermasalahkannya. Tetapi ia berbeda. Wajahnya biasa saja lalu tubuhnya sedikit terlalu kurus dibandingkan dengan bentuk tubuh ideal dalam bayanganku. Hanya saja yang menarik perhatianku adalah matanya yang bening, tajam, dan seperti banyak mengandung unsur kehidupan. Membuat orang yang menatapnya akan sulit untuk memalingkan pandangannya dari matanya. Tidak pernah terbayangkan untuk tidur dengannya. Kami berkenalan secara tidak sengaja di sebuah toko buku tempat aku biasa membeli buku. Ia mengatakan kalau ia sering melihatku di toko ini, dan setelah mengobrol panjang lebar tentang berbagai macam buku, kami jadi akrab. Setelah itu aku sempat beberapa kali jalan dengannya. Ia mengatakan kalau ia sudah mempunyai kekasih. Aku tidak begitu peduli, setahuku itu bukan masalahku, ingat, tidak ada cinta. Lagipula ia mau saja jalan denganku walau sudah memiliki kekasihku. Kalaupun kekasihnya datang untuk memukuliku sekalipun, maka saat itu juga aku akan pergi. Sampai saat itu tidak terpikir olehku untuk tidur dengannya, aneh. Biasanya setelah dua tiga kali jalan dengan seorang wanita maka saat itu juga aku akan menjalankan rencana untuk tidur dengan mereka. Aku merasa cocok dengannya, dan aku begitu menyukai  bercakap-cakap dengannya, seolah aku tidak akan pernah bosan. Sehingga saat itu timbul perasaan kalau wanita ini terlalu berharga untuk kutiduri. Tetapi tiba-tiba pada malam hari ini ia mengajakku jalan. Ia mengajakku pergi ke bar untuk minum. Aku tidak tahu kalau ia merupakan peminum yang cukup parah. Lalu setelah itu ia mengajakku ke hotel, ia tidak mau pulang katanya. Sialnya pola ini terlalu sering kujalani, sehingga membuat instingku tumpul. Seharusnya aku sudah tahu ada yang aneh dengannya malam itu. Lalu segala sesuatunya terjadi seperti sesuatu yang alami dan harus terjadi.

Aku matikan rokok tersebut di asbak yang ada di atas meja. Aku akhirnya memutuskan untuk tinggal di sini menemaninya. Entah apa yang akan terjadi nanti. Kemudian aku menutup tubuhnya dengan selimut agar ia tidak kedinginan. Aku akan tidur di sofa.

Saat aku terbangun ia sudah tidak ada. Rasanya aku sudah tahu kalau akan berakhir begini. Ia tidak meninggalkan suatu catatan apapun, hanya sejumlah uang di atas meja. Mungkin untuk membayar biaya hotel, meskipun sepertinya terlalu banyak. Tetapi cukup bagiku untuk menyadarkan kalau diriku ini benar-benar hanya seorang gigolo. Lalu apakah sekarang aku harus memanggil seorang pelacur untuk kemudian meneriakkan nama wanita itu berkali-kali sebelum aku orgasme? Tidak, ini tidak akan terjadi lagi. Aku… tidak ingin menjadi gigolo. Kemudian sejenak aku pandangi tempat tidur. Terlihat kalau ia telah merapikannya sehingga seolah ia tidak pernah berada di situ. Di kamar ini sekarang hanya ada aku dan bekas wiski yang tumpah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s