mac-man

“Man, ayo bangun!!! Sudah siang nih!”, aku mendengar Mac sedang berteriak-teriak sambil menggedor pintu rumahku.
“Dasar sial, kenapa kamu selalu berpikir aku sedang tidur sih? Pintu rumahku bisa rusak kalau kamu gedor seperti itu”, aku berbicara seakan menggerutu karena ia sudah tidak peduli apa yang kukatakan.
“Ayo cepat, hari ini aku akan memainkannya, katanya kamu ingin nonton?”, ujarnya seraya mengambil tanganku dan menariknya.
Aku bergerak malas, “Sebentar, aku kunci dulu rumahku.”
“Hahaha, ngapain juga benda yang kau sebut rumah itu dikunci? Memangnya ada barang berharga? Siapa yang mau merampok gubukmu itu?”, ucapan peremehan Mac yang sudah biasa kudengar.
Aku tidak peduli dan tetap mengunci rumahku dengan gembok yang baru-baru ini kutemukan, ”Entahlah Mac, aku hanya merasa kalau rumah itu seharusnya dikunci kalau kita pergi.” Rumah yang kumaksud disini hanyalah sebuah gubuk kecil dari seng dan triplek yang kubuat di bawah kolong jembatan yang masih sepi dari gubuk lain. Sangat nyaman buatku.
Lalu setelah itu kami pun berjalan menyusuri sungai yang pinggirnya sudah mengering tersebut menuju cinta Mac yang tidak pasti.

***

Mac sedang jatuh cinta. Aku masih ingat ketika minggu lalu dia menggedor rumahku seperti pagi ini dan mengatakan dengan antusias kalau ia jatuh cinta pada seorang gadis yang ia lihat di bus sewaktu Mac mengamen di bus tersebut. Aku tidak mengerti kenapa Mac bisa jatuh cinta pada seseorang yang jelas-jelas tidak akan bisa ia dapatkan. Aku selalu menasehati Mac untuk melupakannya.
”Ayolah Mac, kita ini hanya pengamen jalanan yang tetap akan menjadi seorang pengamen, dan mungkin ia adalah seorang mahasiswi terpelajar yang kelak mungkin dapat menjadi seorang direktur di sebuah perusahaan. Dunianya terlalu berbeda, Mac!” ujarku mencoba meyakinkan Mac yang malah tampak tersenyum meremehkanku.
”Kau salah Man, cintaku tulus, aku tidak berharap apa-apa padanya. Mengamen di bus yang ia tumpangi dan membuatnya menikmati suaraku saja sudah cukup.” ujar Mac sambil menyetem gitarnya. ”Dan aku bukan sekedar pengamen biasa, aku menyanyikan Queen, Rolling Stone, The Beatles dan band-band luar negeri lainnya. Berbeda dengan pengamen kebanyakan yang bisanya lagu Indonesia, jelas aku lebih unggul.” usaha Mac meninggikan statusnya malah membuatku semakin sedih.
”Aku jadi penasaran, sebetulnya kenapa kau bisa jatuh cinta padanya?”
”Itu cinta pada pandangan pertama, Man. Romantis kan? Seperti sosok sebuah bidadari dalam impianku yang menjelma dan hadir begitu saja di depanku, seakan takdir telah mempertemukan kami.” ujar Mac menerawang.
“Kau kebanyakan nonton film percintaan.” ujarku sedikit geli mendengar kata-kata Mac.
”Ah, sudahlah. Kau tak akan mengerti Man. Kau tak akan mengerti sampai kau merasakan cinta yang sebenarnya. Cinta yang hadir memenuhi relung-relung hati ini, dan…” belum sempat Mac menyelesaikan kata-katanya ia seperti terkejut.
”Kenapa kau, Mac?” ia seakan tidak menggubris pertanyaanku dan seperti tergesa-gesa mengambil gitarnya lalu mulai memainkannya. ”Kau kesambet ya?” aku semakin heran pada tingkah lakunya.
”Lagu. Aku akan memberikannya sebuah lagu khusus ciptaanku. Hanya ini yang bisa kuberikan untuknya, dan barusan aku mendapatkan ilham. Jadi pergilah dulu kau, Man. Jangan ganggu aku.” tampak mimiknya yang serius. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Iri juga aku melihat Mac begitu serius, sementara aku bukan orang seperti itu. Aku selalu merasa diriku sebagai pengamen tidak mempunyai arti apa-apa di dunia. Cukup berusaha bertahan hidup, itu saja. Aku tidak pernah serius mengerjakan suatu hal, bahkan sewaktu mengamen sekalipun.
Hampir tiap hari aku mendengar Mac berusaha menyempurnakan lagunya, bahkan aku turut menyumbang sedikit-sedikit untuk aransemennya. Sementara untuk liriknya Mac bersikeras menggunakan bahasa Inggris. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu bagaimana dia bisa mengerti lirik-lirik tersebut.
”Kenapa harus bahasa Inggris sih?” aku bertanya iseng pada Mac.
”Wajahnya mirip Cinta Laura, jadi kukira ia akan menyukai lirik berbahasa Inggris.” jawab Mac singkat. Cinta benar-benar membuatnya gila.
Setelah sempurna, ia menyanyikan lagu itu setiap hari sampai aku bosan mendengarnya. Tetapi bagai kutukan, aku jadi mengerti memainkannya dan sedikit hafal dengan liriknya meski aku tidak mengerti sama sekali artinya. Ia sangat bangga dan mengatakan kalau lagu ini bisa menjadi hits sepanjang masa.
”Tunggu dulu, sepertinya kau belum memberinya judul?” aku sendiri baru sadar ketika menanyakan itu. ”Hahaha, masalah itu jangan kau khawatirkan. Aku akan memberi lagu itu judul sesuai dengan nama gadis itu, cukup namanya saja.” Mac seakan bangga sekali dengan idenya ini. Yah, kupikir tidak jelek juga. Toh aku tidak mengerti isi lagunya.
”Lalu apa rencanamu?”
”Aku akan menyanyikan lagu ini, lalu mengatakan kalau lagu ini kupersembahkan untuknya sekaligus menanyakan namanya. Romantis kan?” ekspresi muka Mac membuatnya tampak seperti bintang film semi-porno. ”Setiap hari aku selalu melihatnya, jadi aku sudah hafal kapan ia akan berada di bus. Akan mudah menemukannya.” ujarnya yakin.

***

Kami terus berjalan, menuju tempat bus tersebut biasa mengetem. Inilah hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh Mac. Aku kagum padanya karena ia tidak gugup dan sangat yakin kalau akan berhasil. Aku sebagai temannya tentu menginginkan ia berhasil juga. Aku tahu bagaimana Mac dengan tekun menyempurnakan lagunya, lalu menunggui bus yang biasa ditumpangi gadis tersebut setiap hari. Aku tidak ingin jerih payahnya sia-sia.
Mac benar-benar sudah hafal betul. Benar saja, beberapa saat kemudian ia berkata dengan penuh semangat, “Itu dia! gadis yang memakai sweater hijau itu.” tunjuk Mac. Gadis tersebut terlihat masuk ke dalam bus tersebut. Dan jujur aku tidak melihat ada kemiripan dengan Cinta Laura. Kami pun naik ke dalam bus tersebut.
Di dalam, aku melihat gadis tersebut duduk di dekat jendela di barisan agak belakang sebelah kiri. Sejenak aku berpikir dia sendirian, tetapi ia terlihat mulai mengobrol dengan seorang lelaki disebelahnya. Firasat buruk pikirku. Bagaimana jika ternyata itu kekasih gadis tersebut dan Mac lepas kendali? Ah tidak mungkin pikirku.
Begitulah, Mac mulai memainkan gitarnya dengan mantap dan bernyanyi sepenuh hati dengan pengucapan bahasa Inggrisnya yang aneh. Aku tidak menampik kalau suaranya cukup lumayan, ia selalu mengatakan kalau suaranya mirip dengan Bob Dylan. Selesai bernyanyi Mac menjalankan rencananya. Dan hal yang kutakutkan terjadi. Aku heran mengapa firasat burukku lebih sering terjadi daripada firasat baikku.
Gadis tersebut tampak ketakutan, ia memegang bahu lelaki di sebelahnya dengan erat dan menatap curiga pada Mac. ”Maaf mas, kayaknya pacar saya takut dengan mas, kalau tidak keberatan…” belum selesai lelaki tersebut berbicara, Mac sudah pergi meninggalkan bus. Aku bersyukur Mac tidak lepas kendali. Lalu akupun pergi menyusul Mac.
Sejenak aku melirik ke arah jendela bus tempat gadis tersebut duduk. Terlihat gadis tersebut tengah menengok ke arah Mac. Ekspresinya heran tetapi menyimpan tatapan kagum sekaligus senang pada matanya. Dan hanya sekejap aku melihat bibir gadis tersebut tampak tersenyum sebelum ia memalingkan wajahnya.
“Mac, sumpah, aku melihatnya tersenyum! Setidaknya kau berhasil membuatnya terkesan!” aku berkata padanya benar-benar dengan maksud menghibur.
“Sudahlah, Man. Aku mengerti.” terlihat ekspresi kecewa di wajahnya. “Aku mengerti. Benar katamu, kita hanya pengamen. Kita tidak memiliki apa-apa untuk diberikan. Bahkan sebuah lagu sekalipun.” ujarnya lirih.
“Itu tidak benar, kau sudah berhasil dengan baik, Mac.” sepertinya ia mengerti kalau aku berusaha menghiburnya. “Terima kasih, Man.”

Kami berdua pun berjalan pulang ke rumahku, rumahku tercinta. Kami pulang tidak membawa apa-apa. Bahkan lagu Mac tidak jadi memiliki judul. Ia mengatakan sambil berusaha tegar kalau lagu yang tidak memiliki judul juga tetap dapat menjadi hits.
Aku merogoh sakuku dan tidak menemukan kunci gembok tersebut. “Mac, sepertinya aku sudah menjatuhkan kunci rumahku, kuncinya hilang! Kita tidak bisa masuk ke rumah!” ujarku panik.
Tetapi bukannya panik Mac malah tertawa, “Hahaha, Tuhan benar-benar sayang pada kita.”
“He? Apa maksudmu Mac?” kali ini aku benar-benar tidak mengerti maksud Mac.
“Ketika kau tidak bisa masuk ke rumah itu, kau akan merasa kalau rumah itu benar-benar berharga kan? Kau merasa kalau kau benar-benar memiliki rumah itu. Tuhan sedang menjelaskan kepada kita kalau kita masih memiliki sesuatu yang berharga.”
Sekonyong-konyong kami pun tertawa. Entah apa yang kami tertawakan. Kami hanya ingin tertawa, membuat malam menjadi berisik dengan tawa kami. Aku tidak habis pikir pada Mac, ia dapat bangkit dengan cepat dari keterpurukannya dan menemukan hikmah di balik semua ini, lalu dengan bebas menertawakannya. Apa salahnya mencintai seseorang? Apa salahnya membuatkan lagu untuk seseorang dan memberikannya? Apa salahnya menjadi pengamen? Apa salahnya mengunci rumah yang tidak berisi? APA salahnya?
Akhirnya kami duduk di tepi sungai. Ditemani pantulan rembulan di sungai yang mengalir tenang, kami memainkan lagu tak berjudul tersebut berulang-ulang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s