umbrella

“Hai, sudah lama menunggu?”, suaranya yang lembut menyapaku dibalik derasnya hujan di malam hari itu.

“Memangnya kau peduli? Ayo.”

Ia tersenyum. Lalu akhirnya kami berjalan menembus hujan dengan hanya menggunakan satu payung yang ia bawa.

“Sepi.”

“Ah tidak juga, masih banyak mobil yang lewat. Di pinggir jalan juga banyak orang yang berteduh.”

“Maksudku trotoarnya sepi. Tidak ada pejalan kaki lain.”

“Oh..”

“Padahal pemandangan para pejalan kaki yang menggunakan payung di tengah hujan deras pasti terlihat indah.”

“Sok romantis,” ujarnya dengan nada mengejek. Aku tidak menanggapinya, hanya tersenyum.

“Apa sekarang payung menjadi tidak begitu populer?” tanyaku.

“Tidak tahu.” jawabnya malas.

“Hehehe. Kita berjalan berdua dan menjadi satu-satunya pengguna payung malam ini, dan kita sedang membicarakan tentang payung juga. Rasanya aneh.”

“Kamu sendiri yang membicarakan tentang payung, bukan aku. Gantian pegang payungnya, aku pegal.” ujarnya sambil menyerahkan payungnya padaku. Payungnya sangat sederhana, berwarna hitam dan berujung bengkok, sangat klasik.

“Ini payung siapa sih, rasanya tidak seperti payung perempuan. Apa kamu mencurinya dari sebuah pemakaman sore tadi?”

“Sembarangan, itu payung kesukaan aku. Memang terlihat seperti payung untuk pemakaman. Tapi aku suka warna hitam, jadi cuek saja. Lagian memangnya perempuan harus memakai payung yang bermotif bunga-bunga?”

Aku tak menjawab pertanyaannya dan malah balik bertanya, “Siapa saja yang pernah berada di bawah payung ini bersamamu sebelum aku?”

“Tidak ada, baru kamu.”

“Hah? Dengan pacarmu pasti pernah kan?”

“Dia tidak suka. Dia lebih memilih berteduh menunggu hujan reda.”

“Sepertinya payung memang benar-benar menjadi semakin tidak populer.”

Setelah itu kami terdiam beberapa saat. Aku mulai memikirkan keadaanku sekarang. Berjalan di tengah hujan di malam hari bersama seorang wanita di bawah satu payung bukanlah hal yang jelek. Sama sekali tidak jelek. Wajahnya yang sesekali terlihat jelas karena sorot lampu mobil terlihat indah. Dia terlihat cantik, padahal sebetulnya wajahnya biasa-biasa saja.

Lalu aku menyenandungkan sebuah lagu. Sebetulnya aku tidak memiliki maksud apa-apa. Hanya iseng saja.

“Hihihi. Kalau lagi hujan begini suara kamu terdengar lebih enak.”

“Iya. Kalau hujan, bau parfum kamu yang membosankan itu juga jadi enak karena bercampur dengan bau tanah yang terkena hujan.”

“Jahat!” katanya sembari memukul lenganku. Aku hanya tertawa.

Setelah itu kami kembali terdiam. Kali ini dia yang mulai bersenandung. Tetapi sebentar kemudian dia berhenti, “Tuh kan, aku jadi ketularan kamu.”

Aku malah meneruskan lagu yang ia nyanyikan. Aku lihat wajahnya sambil terus bernyanyi. Ia tersenyum, senyumnya seolah mengatakan “oh, well…”. Lalu kami berdua bersenandung bersama.

Ketika itu hujan sepertinya sudah berhenti. Terlihat beberapa orang pejalan kaki mulai berjalan di trotoar. Kami masih menggunakan payung.

“Payungnya mau diturunkan?”, tanyaku.

“Jangan dulu. Aku masih suka begini.”

“Tidak masalah dilihat oleh orang-orang?”

“Biarkan mereka iri melihat kita. Kebahagiaan yang hanya bisa dirasakan oleh kita yang menggunakan payung.”

“Sok romantis. Hehe.”

“Biarin!”

Seperti biasa, ia terlihat sangat cantik di saat-saat begini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s