Membedah Malin Kundang

Tergelitik waktu melihat Stand Up Comedy Indonesia yang entah yang kapan, udah lumayan lama, yaitu saat Mo Sidik sedang beraksi, ia bercerita tentang malin kundang dan ia mengatakan bisa saja ibunya malin kundang ini yang mungkin saja psycho karena mengutuk Malin. Sebenarnya yang ia katakan itu maksudnya komedi semata, tapi itu dapat membuka pikiran saya untuk melihat sisi lain dari cerita2 rakyat, khususnya Malin Kundang.

Jadi sempat terlintas kalau secara umum memang cerita2 itu dibuat untuk memberi pesan moral untuk anak-anak karena yang bikin ceritanya adalah orang dewasa, dan karena itu ceritanya jadi kurang berpihak untuk anak2, anak2 seakan adalah makhluk berbahaya yang memiliki potensi membangkang orangtua. Itu memang benar, tapi orangtua juga tak kalah berbahaya karena punya potensi mencetak anak2 durhaka. Karena kurangnya penulis cerita rakyat yang masih muda, jadi memang mungkin hal di atas terjadi.

Kembali ke malin kundang, sebenarnya saya kurang hafal ceritanya, tapi seenggaknya ini yang jadi pemahaman orang2: si malin kundang terlena dengan kekayaan, ia berubah, sehingga ketika ia balik ke kampung, ia malu mengakui ibunya dan mengasari ibunya, ibunya sakit hati, dikutuklah malin. Nah disini saya menemukan keanehan.

Pertama, bagaimana keadaan malin kundang sebelum pergi merantau? Maksudnya, apakah ia semula seorang anak baik? Yang baik juga untuk orangtuanya? Atau sejak semula ia anak nakal?

Kalau ia anak baik dan punya hubungan baik dengan ibunya, ia akan selalu punya niat untuk kembali dan membahagiakan ibunya. Mau terlena dengan kekayaan segimana juga, tetap aja dia akan baik, sulit untuk tiba2 berubah 180 derajat dan ia jadi kurang ajar. Kalaupun ternyata berubah, ibunya ini adalah seorang psycho (bener kata mo sidik), karena harusnya ia tau kalo anaknya dulu baik dan ia berubah karena harta, jadi salahin hartanya bukan anaknya. Lagian kenapa ga berdoa agar anaknya jadi baik, malah ngutuk coba? Jangan2 anaknya ini memang dulunya udah nakal, jadi ibunya dendam dari dulu.

Tapi kalaupun ia dari semula udah nakal, ibunya harusnya udah ga expect, ini anak emang nakal dan pasti bakal kurang ajar. Nah tapi, kenapa anak ini udah nakal? Jangan2 dulu memang ibunya yang kurang perhatian sama anaknya ato gimana yang bikin anak ini jadi nakal, ga mungkin dong brojol langsung nakal?

Satu lagi keanehannya, kalo dia emang nakal, ngapain juga dia balik? Dia pasti pergi dengan niat pengen sukses sendiri, the hell dengan orangtuanya. Jangan2 emang niat mau nyombong ke ibunya kalo dia udah kaya? Nah kalo gini, ibunya harusnya udah tau tu anak cuma mau nyombong, dan ibunya bakal marah/sedih bukan karena anaknya menghina dia (dari semula juga kan anaknya nakal, udah biasa kali dihinain anaknya) tapi karena iri dan ga dibagi harta. Nah ini lebih psycho lagi, karena iri dan ga dibagi harta, ia kutuklah si malin kundang. Mengerikan. Harusnya ia introspeksi, dulu didiknya bener ga, ko anaknya gini? Malah ngutuk.

Jadi pesan moralnya, didiklah anak anda dengan baik dan benar, agar nantinya akan selalu berbakti pada anda, salah satu caranya dengan memupuk hubungan yang baik dengan mereka, jangan sampe mereka durhaka ntarnya. Cara lainnya tanya aja ke ahli pendidik anak (yang kayanya masih sedikit)

Tentunya analisis saya ini sangat lemah dan akan mudah dihancurkan oleh para ahli cerita malin kundang di sumatera barat sana. Tapi ini cuma pembelaan saya sebagai seorang anak, yang tidak mau kalo sosok anak seperti selalu disalahkan ketika mereka nakal tanpa membahas sosok si orangtua yang cenderung jadi korban anaknya. Oh come on.

Tulisan di atas adalah salah satu tema favorit saya, menyerang orangtua dan membela anak, menyerang kaum tua dan membela kaum muda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s