the root, hakikat.

Sebuah tulisan yang rada serius, dan pastinya ngebosenin buat yang mau baca.

Saya ngeliat kalo keadaan di dunia ini, terutama di Indonesia, sepertinya tidak berada pada tempatnya. Terlihat dari dua hal sederhana saja, yaitu perikanan dan pertanian. Bagaimana mungkin negara maritim dan agraris seperti Indonesia belum menguasai dunia perikanan dan pertanian. Nelayan dan petani dianggap lebih hina daripada pekerja kantoran, come on, sejak kapan nenek moyang kita itu pekerja kantoran? Ga maksud ngecilin pekerja kantoran, mereka juga diperlukan sekarang.

Poinnya adalah: Nelayan dan petani sudah ada dari dulu, kegiatan ini sudah beribu2 taun dilakukan, tapi kenapa seperti mandek? Karena kita terlalu silau dengan cara hidup orang barat, padahal, apakah itu cocok? Buktinya semua jadi seakan salah tempat, lahan kita yang seharusnya menghasilkan hasil tani kelas satu malah dijadikan lahan untuk pabrik yang kebanyakan cuma menghasilkan produk semenjana perusak lingkungan. Laut kita juga, orang lebih tertarik membuang limbahnya di laut daripada menyebar bibit ikan unggul.

Saya yakin kalo dari dulu negara ini serius, merangkul petani dan pelaut, kita sudah menjadi negara nomor satu dalam pertanian dan kelautan, karena memang kita punya lahannya, dan kita punya ahli2 yang sejak dulu sudah melakukannya. Industri? Itu hanya dilakukan negara2 yang tidak  punya sumber daya yang cukup untuk dikonsumsi rakyatnya.

Apakah saya sok tahu? Apakah saya tidak tahu kalau ternyata pertanian dan kelautan kita maju? Tapi saya memang lebih tahu kalau buah2an banyak diimpor dari thailand dan saya taunya kalau ke laut, nelayan kita terlihat menyedihkan.

Padahal dari dulu sudah ada lagunya kan, “nenek moyangku seorang pelautt…” Sayang itu cuma dianggap lagu anak2, padahal lagu itu udah ngasi tau kita kalau kita seharusnya melaut.

Terus kenapa saya cuma ngomong doang dan ga segera ke sawah ato ke laut jadi pelaut? Karena saya tidak tau cara menanam padi dan cara melaut, dan saya kira sudah terlambat untuk mengajarkannya ke saya, saya hanya akan jadi salah satu buruh tani atau nelayan.

Yang harus dilakukan itu adalah mulai mendotrin anak2 kita kalau kita seharusnya hidup dengan hasil tani dan hasil laut. Caranya adalah dengan mulai mengajak mereka ke sawah dan melaut. Saya kira itu bakalan efektif untuk kemudian hari mereka setidaknya tertarik untuk belajar bertani dan melaut. Idealnya mereka akan mulai memajukan kedua aspek itu.

Inti dari tulisan ini adalah mengenal diri, mengenal apa yang cocok untuk kita lakukan, jangan memaksakan diri untuk melakukan apa yang orang lain lakukan, apa yang negara2 lain lakukan, kita berbeda, mereka tidak punya lahan pertanian yang subur, tidak punya lautan yang kaya, kenapa harus sama pola hidupnya? Kenapa harus sama bentuk bangunannya? Kenapa harus sama sistemnya?

Ini juga menggelitik saya, jangan2 kita tidak memaksakan diri, tapi dipaksakan, jangan2 ada suatu sistem yang dilakukan untuk mengebiri potensi negara2 yang seharusnya maju, hal itu akan saya tulis suatu saat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s