bukan orang Indonesia sejati

Sebenernya saya tidak tahu seperti apa orang Indonesia sejati itu, tapi saya menemukan kalau saya tidak seperti orang Indonesia kebanyakan. Lebih spesifik, saya tidak begitu menyukai budaya2 di Indonesia, meskipun tidak semua. Ya, kalau tidak suka, saya bilang tidak suka, kalau suka, ya saya bilang suka, saya tidak menyukai sesuatu karena itu adalah budaya Indonesia yang luhur, bagus, unik, dan patut dilestarikan, bukan karena itu.

Contoh paling ekstrim adalah batik, ketika semua orang menyerukan untuk melestarikan batik blablabla, kalau saya malah cenderung ga suka sama batik. Mungkin karena saya tidak begitu mengerti filosofi batik dan nilai seninya, tapi saya juga punya selera seni saya sendiri dan selera saya ternyata mengatakan batik itu biasa saja. Malahan hasrat pemberontak saya yang ingin berbeda dengan orang lain malah menggoda saya untuk membenci batik, sepertinya seru aja kalau saya benci batik sementara orang2 Indonesia lainnya berkoar2 untuk menyukainya. Makanya, saya tidak akan membeli atau memakai batik kecuali terpaksa.

Kemudian sepertinya banyak adat2 dan kebiasaan orang Indonesia yang saya tidak suka, terutama hal2 yang sifatnya seremonial, ah saya tidak suka sekali, bertele2, hal ini bisa ditemukan kalau ada suatu acara, pasti ada penyambutan2 dsb. Dan mungkin sekali lagi, ini karena saya tidak mengerti filosofi dan nilai seni dari seremoni2 tersebut, tapi saya memang tidak begitu ingin mengerti. Memang saya bukan orang Indonesia sejati.

Saya mengantuk kalau melihat tari2an tradisional. Saya tidak suka dengan ungkapan, “kalau kebudayaan kita bukan kita sendiri yang melestarikan, lalu siapa lagi?” well, “kalau bisa nyuruh orang lain, kenapa ngga? yang penting kebudayaannya lestari, biarpun orang luar negeri sekalipun”, kenapa harus dimonopoli? bukannya siapa aja boleh melestarikan ya? yang penting serius, dan saya yakin mereka serius.

Komodo punah saya tidak peduli, saya tidak suka memelihara komodo dan ga akan rindu kalo mereka punah. Lagian, namanya juga seleksi alam, kalaupun punah, ya udah, ada kan videonya? gambarnya? mayatnya yang udah diformalin? Ntar di masa depan buat robotnya deh biar anak2 di masa depan nanti tau gimana itu komodo.

Bagi orang Indonesia, ngaret itu biasa, makanya saya ingin selalu tepat waktu.

Saya benci BB. Hasil analisis seadanya dari saya, kenapa orang Indonesia suka BB itu karena mereka gemar sekali berkumpul hanya untuk bergosip, dan BB mengakomodasi hal tersebut. Selain itu, BB duluan ngetren, jadi gadget lain yang punya fasilitas sejenis udah kalah duluan, orang Indonesia kan suka ikut2an tren jadi banyak yang sudah punya BB, jadi begitulah kenapa mereka berhasil menancapkan taring mereka di Indonesia, karena populasinya sudah banyak, dan karena populasinya sudah banyak, menggosip pun makin asik.

Saya lebih suka stand up comedy daripada OVJ.

Kalau sedang lapar, lalu di meja makan disediakan soto ayam dan spaghetti, atau sate ayam dan steak, sepertinya pilihan saya jatuh kepada spaghetti atau steak. Tapi tidak berarti saya tidak menyukai semua masakan Indonesia, itu cuma contoh saja kalau saya punya kecenderungan lebih suka masakan barat, saya menikmati kok soto dan sate ayam.

Nah kira2 itulah sedikit dari ketidaksukaan saya terhadap budaya Indonesia, yang mungkin membuat saya menjadi bukan orang Indonesia sejati. Saya mungkin sangat egois ya, tapi begitulah, saya hanya suka pada apa yang menurut saya bagus dan asik, makanya ada juga budaya Indonesia yang saya sukai.

Tulisan yang tidak bertujuan..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s