Sara (Bagian I) – A Girl with Thousand Smiles

Aku adalah seorang penulis, atau tepatnya ingin menjadi penulis, blog ini pun sudah lama tidak dijamah. Saatnya menulis lagi. Makanya sekarang aku sedang berada di sebuah kafe, di sebelah laptop sudah ada caramel machiatto hangat dan di mulutku sudah terselip sebatang rokok LA ice. Suasananya sudah sempurna dan aku siap mengetik.

Aku akan menuliskan sebuah cerita. Cerita mengenai diriku dan seorang wanita. Tentunya wanita ini spesial, karena kalau tidak, maka ia tidak akan pantas untuk diceritakan di sini. Wanita ini bernama Sara.

Sara adalah teman kuliahku, tetapi sejak kira-kira akhir September 2014 aku mulai menaruh perhatian padanya. Kemudian bulan Oktober aku semakin yakin kalau aku mulai memiliki perasaan lebih kepadanya. Suka, cinta, atau sayang, kira-kira seperti itu. Perasaan itu seolah datang tiba-tiba, tidak bisa kutolak dan terjadi sangat natural. Sama seperti bulan November yang datang setelah bulan Oktober, atau metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu, terjadi secara alami. Walaupun alami, tetapi aku mungkin tidak bisa berkata kalau perasaan ini datang dengan tiba-tiba. Mungkin secara tidak sadar, Sara telah memenuhi satu per satu preferensiku mengenai sosok wanita idamanku hingga akhirnya timbulah rasa suka itu. Seperti itu.

Pertama kali aku menyadari sosok Sara adalah sewaktu perkenalan ketika baru awal-awal masuk kuliah. Di antara berpuluh temanku yang lain, Sara menjadi salah satu teman yang kuingat. Aku ingat bukan karena wajah atau apa yang ia katakan di depan kelas, tetapi karena ia banyak tersenyum. Ya, senyumannya sangat berarti untukku.

Seiring perkuliahan berlangsung, aku belum pernah berbicara atau berinteraksi dengannya hingga kami satu kelompok di salah satu mata kuliah. Saat itu pun, ia masih hanya seorang “teman satu kelompok” tidak lebih. Aku saat itu sedang malas sekali untuk kuliah dan aku masih dalam tahap adaptasi dengan orang-orang ini, jadi aku tidak banyak berinteraksi dengan mereka. Hingga saat berdiskusi kelompok, aku menjelaskan mengenai teori yang kupelajari mengenai memori, aku secara tidak sadar memilih Sara untuk menjadi contoh, “Misalnya, kita mau mengingat wajah Sara. Maka kita membayangkan blablabla…” Hmm.. kenapa ya aku memilih Sara? Mungkinkah itu sebuah pertanda awal?

Aku mulai menaruh perhatian pada Sara seiring dengan seringnya kami bertemu dalam kelompok. Eksistensi Sara perlahan semakin jelas muncul dalam pikiranku. Seperti sketsa di sebuah kanvas putih yang perlahan menjadi semakin jelas meskipun belum memiliki warna, masih hitam putih. Aku memperhatikan dia dan mengobrol beberapa kali dengannya, lalu aku memutuskan, she’s something, nice and worth to be friend.

Perasaan itu mulai muncul ketika semakin hari aku semakin sering menatapnya. Kenapa? Senyumannya. Seperti yang aku bilang sebelumnya, senyuman Sara adalah salah satu hal yang paling indah dari dirinya. She smiles a lot and every smile looks so beautiful, pure, and refreshing. Untukku. Makanya, aku teringat dengan lagu dari Ellegarden berjudul “a thousand smiles”. Yeah, I’m a poor little boy who met a little girl with thousand smiles.

Waktu itu, di bulan Oktober ada pertandingan futsal dan basket antar angkatan di kampus. Sara bermain. Sara, 21 tahun, berlari kesana kemari mengejar bola dengan bersemangat. Aku, 26 tahun, mengejar setiap sosoknya dengan bola mataku. Aku mulai semakin terpesona dengan sosoknya, bahkan aku juga mulai khawatir kalau ia terjatuh dan terluka. What? Hahaha…

Aku semakin merasakan kalau ini berbahaya. Aku tahu kalau aku mulai merasa jatuh cinta dengannya. Mengapa berbahaya? Karena, mengutip dari lagu Marcell – Peri Cintaku: “Tuhan memang satu, kita yang tak sama…” “Dinding begitu tinggi, sulit untuk kugapai..” Bahkan bukan sulit lagi, tetapi memang hampir tidak mungkin. Kami berbeda keyakinan dan aku tahu sebaiknya aku tidak tenggelam terlalu jauh dalam perasaan ini. Namun begitulah diriku yang penuh rasa dan emosi. I can’t help it. Aku ingin menikmatinya dan mengambil yang baik-baik saja dari perasaanku ini, menjadi teman baiknya saja sudah cukup. Tetapi, apakah bisa?

Bagian I selesai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s