Sara (Bagian II-b) – Still, The Roller Coaster

Seteguk jus jeruk, dan mari kita lanjutkan.

Setelah Jum’at itu, aku jadi merasa terpuruk, berjuang melawan segala kegundahan dan kenelangsaan karena Sara. Apabila dianalogikan, sekarang adalah masa sakaw yang tidak bisa dipuaskan. Aku sudah menikmati segala sensasi kegembiraan, keceriaan, meluapnya motivasi dan energi pada saat sebelumnya. Sekarang, aku sudah tidak bisa menikmatinya lagi tetapi otak terus menagih sensasi itu lagi. Jadilah aku sakaw, otak dan seluruh tubuhku sekarang tersiksa. Lagu peri cintaku semakin menyayat hati.

Rasanya gemas sekali dengan Sara. Perasaan gemas ini lebih seperti, “Ahhh… Kenapaa? You are so close, yet unreachable…” Ironi. Aku masih satu kelompok dengannya dan sering mengerjakan sesuatu bersama, ia begitu dekat tetapi rasanya jauh. Gemas, aku mainkan rambutnya dengan pulpen, aku tusuk-tusuk punggungnya dengan pulpen, aku cubit-cubit lengannya juga, seolah mencoba merasakan benarkah entitas yang begitu dekat ini sebenarnya jauh dan tak tergapai?

Saat itu, pertengahan Bulan Oktober, motivasiku menurun ke titik nadir. Perkuliahan membosankan, Sara terasa menyiksa, dan segalanya terasa tidak berarti. Aku seperti melayang dua atau tiga cm dari tanah, seperti menapak tapi sebetulnya tidak. Pikiranku tidak fokus. Aku hanya ingin memuaskan sakawku. Ingin Sara terus ada, ingin memilikinya. Tetapi sebenarnya, perasaan ingin memiiliki ini yang harus dihapus, cinta adalah cinta, bukan egoisme.

Setelah jatuh-jatuhan, aku diangkat lagi. Setelah berusaha berjuang dan mulai mendapat kedamaian, datanglah sebuah hari yang membuatku melupakan segala perasaan negatifku. Hari dimana ada banyak sekali quality time yang kuhabiskan bersama teman-temanku, dan di antara temanku-temanku ini, ada Sara.

Jadi, hari itu aku akan lari sore bersama teman-temanku dan aku tidak menyangka Sara akan ikut. Aku sendiri sudah mulai melatih mindset bahwa aku bisa bahagia walau tanpa Sara, jadi yang penting adalah bisa lari sore bersama teman-teman. Perkuliahan boring usai dengan cepat, karena akan lari sore maka aku diam dulu di kelas sambil berusaha membuat laporan yang tak kunjung ada kemajuan berarti. Sebagai gantinya aku malah memutar lagu-lagu dan mengobrol. Sebetulnya ada Sara saat itu, tetapi ia duduk sedikit jauh dariku. Aku malah lebih banyak ngobrol dengan teman yang ada di sebelahku. Jam 4 tiba, kami mengikuti acara di kampus dulu baru setelah itu lari sore dimulai.

Kami berlari di sekitaran kampus. Setelah berlari, kami sempat duduk-duduk di fakultas sambil peregangan dan pendinginan. Nah, sebenarnya setelah lari ini puncaknya. Yaitu, bakar sate di kosan temanku. Jadi, setelah dari kampus kami pulang ke kosan masing-masing untuk kembali berkumpul malam harinya. Formasi kami sama dengan yang tadi berlari, hanya ada satu pergantian orang. Banyak kejadian menyenangkan selama bakar sate ini. Overall, ini bukan tentang Sara saja. Aku merasa bahwa mungkin aku mulai bisa bahagia dan meninggalkan perasaan-perasaan negatif. Ya, hari ini benar-benar sebuah waktu yang bahagia bersama teman.

Beberapa hari kemudian juga berjalan dengan menyenangkan. Masih satu kelompok dengannya, kami duduk bersebelahan dan mengobrol tentang banyak hal. Sara benar-benar menyenangkan diajak mengobrol, selalu timbul perasaan nyaman setelah mengobrol dengannya. Sebagian besar karena senyum dan tawanya yang polos. Don’t you know? I’m telling you jokes, being a clown, do stupid stuff, It’s all for you, because you have a beautiful smile that I eager to see.

Mulai terasa kalau aku dapat menikmati kebersamaan dengannya dengan lebih santai. Meskipun perasaan ini masih ada, tetapi tidak lagi menuntut terlalu banyak. Aku berharap kalau memang aku bisa terus menganggapnya sebagai teman saja. Teman baik.

So far so good, kalau bisa berjalan seperti ini terus, sepertinya akan berakhir bahagia.. sepertinya…

Bersambung ke bagian III.

Cerita bonus: Cerita hari Jum’at.

Here we go again, the dramatic overimagination boy. Ada kejadian yang sedikit keren di suatu hari Jum’at di bulan Oktober, atau bisa disebut apa ya… situasi yang dramatis. Adalah saat aku pulang kuliah, aku sedang duduk di motor, masih di parkiran dan menunggu temanku bersiap di motornya (bermaksud pulang bersama), tiba-tiba Sara datang, ternyata dia juga naik motor. Saat itu, di kupingku sedang mengalun lagu Marcell – Peri Cintaku. Yeah, she was walking down the road, looked beautiful as the wind blown her hair, and in my ear was: “aku untuk kamu.. kamu untuk aku.. namun semua apa mungkin, iman kita yang berbeda… Tuhan memang satu.. kita yang tak sama… haruskah aku lantas pergi.. meski cinta takkan bisa pergi…”

It’s really a beautiful sensation. I don’t mind being called crazy. Oh yeah, I’m crazy afterall…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s