Sara (Bagian II) – The Roller Coaster

Roller coaster? Yeah, up and down, thrilling sometimes, but yet, it still fun.

Aku menganggapnya kebetulan yang benar-benar membahagiakan. Saat itu ada satu mata kuliah yang membuat kami terbagi menjadi beberapa kelompok yang berisikan 6 orang, tapi di antara keenam orang temanku tidak ada Sara. Kemudian, suatu waktu kelompok yang semula terdiri dari 6 orang ini dibagi menjadi dua dengan tambahan satu orang, sehingga ada 4 orang dalam satu kelompok. Ya, satu orang tambahan di kelompokku adalah Sara. Ini menjadikan kelompok ini adalah salah satu kelompok mata kuliah terbaik yang pernah kuhinggapi karena akan ada banyak waktu bersama Sara.

Salah satu hari paling indah selama hidupku adalah hari Sabtu tanggal 4 Oktober. Sara datang ke kosanku untuk mengerjakan tugas kelompok. Walaupun ada temanku juga disini, tetapi ini pertama kalinya aku menghabiskan waktu sekitar 4 jam bersamanya. Kami berdiskusi, bercanda, dan mengetik. Berkali-kali aku melihat ke wajahnya, matanya, senyumannya, dan berkali-kali pula aku berkata “That’s why I love you” di dalam hatiku. Hari itu ia mengikat rambutnya seperti biasa, tetapi kali ini poninya jatuh sebagian yang membuatnya tampak lebih cantik. Apakah benar karena itu? Atau mungkin aku sudah buta. Yang jelas, hari itu aku bahagia. This is the up part of the roller coaster.

Kemudian, hal-hal indah masih terjadi. Aku merasa lebih dekat sekarang dengan Sara, beberapa kali saat kuliah kami duduk bersebelahan dan membicarakan berbagai hal yang cukup pribadi. Biarlah walaupun hanya aku yang merasa kami semakin dekat, saat itu aku hanya ingin menikmati setiap kebahagiaan yang kurasakan. Rasanya yang kurang hanya tinggal menggenggam tangannya lalu menyatakan cinta.

Menyatakan cinta? Terlalu cepat dan tiba-tiba. Hanya akan membuatnya kaget lalu membuat hubungan kami menjadi aneh, seperti sedang memasak nasi tetapi begitu rice cooker-nya dibuka yang keluar adalah kupat tahu beserta tukang-tukangnya. Namun aku jadi bertanya pada diriku sendiri, sebegitu cepatnya kah? Memang hanya aku, atau terjadi juga pada kebanyakan orang lain? Aku percaya dengan perasaanku dan aku yakin kalau memang perasaan ini bukan sekadar perasaan sesaat. Meskipun begitu, tetap saja tidak mudah menyatakan cinta pada orang yang benar-benar kau cintai. Padahal menyatakan cinta pada orang yang dicintai itu logis, selogis membeli kupat tahu ke tukang kupat tahu, tetapi ternyata dunia ini tidak mengizinkan satu hal yang logis itu karena terlalu banyak muatan emosi di dalamnya. What a shame…

After the up, here goes the down. Rasa rindu. Rindu adalah racun, dan tidak setiap hari penawarnya bisa didapatkan. Bahkan, walaupun penawarnya ada di depan mata, aku tidak bisa meminumnya begitu saja. Seperti itulah, Sara ada disana, dan aku ingin bisa terus berada di dekatnya. Namun, kalau terlalu dekat dan terus mepet dengannya pasti akan menimbulkan kecurigaan. Aku takut, aku cemas, aku tidak mau kalau orang-orang dan Sara tahu kalau aku memiliki perasaan lebih paa Sara. Jadi, biarlah racun ini meresap dan terkadang mengganggu otakku. Saat ini aku masih bisa menahannya karena terkadang aku masih bisa mendapatkan penawarnya. Sayangnya, aku tidak tahu kalau semakin racun ini meresap, aku akan semakin tersiksa.

Benar saja, diriku memang semula optimis kalau bisa tetap menjadi teman baik Sara walaupun ada perasaan suka padanya. Tetapi sekarang mulai kesulitan. Aku mulai banyak menuntut, ingin terus dekat dengan Sara, ingin bertemu, mengobrol dan melihat wajah dan senyumannya. Tapi, keadaan tidak sesederhana itu, dan aku menjadi frustrasi. Semula aku mencoba bertahan dan tidak ambil pusing, tetapi tiba pada suatu hari di awal Bulan Oktober, yaitu hari Jum’at. Aku tidak tahan lagi dan ingin segera menghilangkan segala perasaan ini. Memang bagaikan roller coaster, terlalu cepat naik, turunnya juga cepat. Hanya sepuluh hari setelah aku yakin kalau aku jatuh cinta dengan Sara, aku segera ingin menghilangkan perasaan cinta ini. Aku cepat jatuh cinta, cepat pula mulai merasa nelangsa.

Aku semakin sadar kalau diriku memang terlalu emosional dan terkadang delusional. Terlalu banyak hidup dalam subjektivitas dan terlena oleh emosi positif. Aku banyak menilai Sara dengan pemikiranku belaka.

Hari Jum’at itu, saat aku memutuskan untuk mencoba menghilangkan segala perasaan pada Sara. Entah kenapa tiba-tiba rasanya sudah jauh sekali dengan Sara. Melepas perasaan yang indah ini, seolah berpisah dengan Sara. Tapi, memang sedari awal aku bukan siapa-siapa baginya. Hari itu kami tidak berbicara apa-apa ketika berpapasan, tidak juga melakukan kontak apa-apa di kelas. Sedih, tapi terprediksi. Aku berusaha menikmati segala perasaan sedih ini. Di tengah-tengah kelas aku pergi keluar kelas, mengeluarkan ipod-ku, menyetel lagu-lagu mellow sambil merokok. Sigh… benar-benar orang aneh yang sok dramatis.

Diiringi lagu dari The Hiatus berjudul Unicorn, aku menatap malas ke arah dinding. “I just wanna to see this blue.. I just wanna to keep it true… I just wanna to be with you and make you happy… is this too much to ask for now?

Aku pun akhirnya akan menjaga jarak dengan dia, dan ini pasti akan mengubur kembali kedekatan yang sudah kugali sedikit kemarin-kemarin. Seperti debu yang terkena hujan, hilang seketika. Ya, semua seperti mimpi indah saja bagiku. Sekarang aku sudah bangun, dan melihat realitas kembali. Realitas itu ada saat aku menatap Sara dari kejauhan, terpampang sebuah realitas dimana aku disini dan kau disana.

You know what, Sara? It’s really a beautiful dream, the memory of you and me talking in the class after we talk in observation room is one of the most precious memory I have. Thank you.

Apakah berakhir sampai disini? Belum, ini hanya bagian pertama dari Roller Coaster yang sebenarnya..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s