Sara (Bagian III) – Khilaf, Labil, dan Childish

Masa tenang, dapat dikatakan begitu. Akhir Oktober dan awal November aku masih bisa membawa santai diriku. Namun, semua mulai berubah lagi, perasaan dan emosi adalah sesuatu yang dinamis. Aku adalah tetap orang yang sama, dan Sara adalah Sara, tetapi mungkin justru karena itu. Kami adalah manusia.

Di dalam hati ini, aku gagal menghilangkan perasaanku pada Sara. Perasaan itu masih terus ada. Aku masih menyimpannya dan tidak ada teman kampusku yang tahu. Namun, aku tidak benar-benar memendam semuanya sendirian. Aku berbicara mengenai hal ini dengan seorang temanku, yang bukan berasal dari kampusku, dan meminta saran padanya. Apa yang dia sarankan terlalu sulit untuk dilakukan, unconditional positive regard for love. Jadi, aku harus bisa melihat Sara tanpa ada prasangka dan tuntutan, lalu memberikan cinta begitu saja dengan tulus. Aku menarik nafas panjang, tidak perlu seekstrim itu, aku akan bergerak pelan-pelan dan melihat apakah aku memang bisa memberi cinta tetapi hanya sebagai teman. Hal yang sulit, semua wanita pastinya akan mengira kalau aku sedang mendekatinya, tetapi aku mencoba.

Mencoba? Aku sepertinya terlalu sering khilaf untuk hal itu. Sehari sebelum pengambilan data di kampus, sekitar tanggal 26 Oktober, aku mengirim pesan lewat line untuk Sara. Seingatku, itu pesan pribadi pertama. Aku meminta motivasi dari dia, karena biar bagaimanapun dia adalah orang yang paling bisa memotivasiku. Tentang pengambilan data sendiri sebenarnya aku tidak merasa ada masalah, aku hanya merasa ini waktu yang tepat untuk mengirim line untuk Sara. Khilaf kan? Menginginkan kesenangan untuk diri sendiri. Untungnya line dengan Sara berjalan cukup lancar.

Selanjutnya aku khilaf lagi. Hari itu kuliah di kelas. Sara belum terlihat. Ia datang terlambat. Sara datang dengan rambut tergerai, tampak baru keramas. Saat kau sedang jatuh cinta, sedikit perubahan saja dari orang yang kau cintai akan menyita perhatianmu. Apalagi perubahannya membuatnya tampak cantik, membuatku ingin menyanyi lagu terpesona. Sara duduk agak jauh, dan aku tidak bisa mengalihkan pandanganku lebih dari lima menit saja darinya. Akhirnya aku khilaf, aku mengirim line dan menanyakan apakah ia baru keramas. What? Ya, memang aneh dan respon dari dia biasa saja.

Mungkin memang sebuah kesalahan ketika aku mencoba mendekati dia tetapi tujuannya menjadi teman baik saja. Seharusnya aku bilang langsung saja dan jujur mengenai segala hal yang aku pikirkan. Entahlah, pokoknya rasanya pendekatanku padanya jadi aneh. Terlalu banyak muatan emosi dan aku sulit untuk tetap kasual dengannya. Sudah begitu, pendekatan dan kontak yang kulakukan sangat minim. Jadinya, rasanya sia-sia saja berusaha mendekatinya, tetap saja tidak ada eskalasi. Akhirnya, frustrasi lah yang datang. Labil sekali memang. Selain kesal dengan diri sendiri, yang membuatku menjadi frustrasi dan kesal adalah, ada kesan kalau dia tidak suka denganku. Aku jadi merasa kalau aku berusaha mendekat lalu ia pun menjauh. Rasanya seperti itu. Mungkinkah ia juga mulai merasa aneh? Atau aku yang sepertinya memang terlalu banyak bermain dengan alam pikiranku sendiri, karena mungkin dia sendiri memang bahkan tidak berpikir sama sekali mengenai diriku.

Kemudian saking childishnya, perasaan frustrasi itu membuatku benci padanya. Aku akan lempeng saja kalau dia tidak menyapa duluan, memasang ekspresi datar kalau ada Sara. Aku tahu kalau aku seperti anak kecil yang sedang ngambek dan mencari-cari perhatian dengan cara kekanakan. Tapi di satu sisi, aku juga ingin menguji hipotesisku, apakah benar ia tidak peduli sama sekali denganku?

Akhirnya terjadi sesuatu, sesuatu yang membuatku sadar kalau aku memang adalah seorang yang labil. Setelah dua tiga hari aku seperti anak kecil. Pada akhir perkuliahan, Sara duduk di depanku. Ia lalu menengok ke belakang dan bertanya, dengan nada yang seperti gemas, kenapa belakangan aku sepertinya diam kepadanya. Bodohnya, mungkin karena kaget dan senang karena mendapat perhatiannya, aku hanya menjawab “Ngga ko…” Maka ia pun tersenyum dan menengok kembali ke arah depan. Aku seharusnya bisa berbicara banyak saat itu, tetapi yang terjadi adalah aku terdiam seolah tak percaya, dia duduk di depanku sibuk sendiri seperti biasa, dan aku di belakangnya deg-degan bodoh. Seketika perasaan marah dan benci kepadanya hilang.

Selepas hari itu, aku jadi sering kangen lagi dengannya. Setiap pertemuan begitu berarti. Duduk bersebelahan dengannya menjadi hal yang sangat berharga. Seperti saat ia datang telat, dan aku juga datang telat, jadi kami duduk bersebelahan di belakang. Kami mengobrol seperti biasa dan aku khilaf lagi seperti biasa. Saat melihat ke bawah, aku melihat kalau sepertinya Sara memakai sepatu baru. Aku bilang, “Sepatunya seperti baru liat..”. Alright, dia memang memakai sepatu yang baru kali itu aku lihat, tampak masih baru, sepatu yang terlihat feminin. Reaksinya? Dia tertawa tetapi tidak langsung menjawab. Then, an awkward silence rose. Damn, aku langsung merasa kalau itu terlalu jauh, perhatian sih perhatian, tapi.. terlalu jauh menurutku. Ah tidak, seperti biasa aku merasa kalau dia akan freak out. Tapi setelah beberapa saat, suasana menjadi biasa lagi, bisa berbicara dengannya seperti biasa lagi.

Aku merasa perhatian yang kemarin itu terlalu jauh dan harus menjaga jarak sedikit dengan Sara. Akibatnya, aku jadi kangen sekali rasanya sampai aku tidak bersemangat melakukan hal apa pun. Dasar aku motivasi ekstrinsik dan terlalu terpengaruh suasana hati kalau mau melakukan sesuatu. Setelah sering khilaf aku pun jadi sadar, kalau seperti ini terus, sepertinya memang harus ada saatnya untuk meluruskan segala sesuatu. Berbicara dengannya dan berkata kalau aku hanya ingin menjadi teman dekat. Mungkin segalanya akan terasa lebih enak dan aku akan lega. Who knows?

Hmm… episode ini memang menjadi episode suram yang penuh gejolak. Sesuai judul, terlalu banyak kekhilafan, kelabilan, dan kekanak-kanakan…

Episode, atau bagian III selesai. Bagian IV, apakah masih suram?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s