Sara (Bagian IV) – Freakshow, Paradox and Bipolar

Mungkin kami sama-sama sedang saling menahan perasaan ragu atau cemas ketika bertemu satu sama lain. Atau mungkin ia tidak merasakan apa-apa sama sekali dan aku heboh sendiri dengan segala perasaanku. Aku belum tahu. Yang jelas, akhir november ini segalanya tampak lebih suram lagi. Lagu-lagu galau, cuaca mendung, dan perasaan nelangsa.

Akhir-akhir ini di kelas aku sering diam sampai sore, bahkan ketika orang-orang sudah pulang. Sebenarnya terkadang aku mengerjakan tugas, tetapi lebih sering memutar lagu-lagu galau keras-keras di laptop dan kadang ikut bernyanyi. Seperti saat itu, aku duduk di meja dosen, memutar lagu galau dan mellow Indonesia era 2000-an dengan volume keras sambil sesekali menyanyi bersama beberapa temanku yang juga bertahan di kelas. Menikmati freakshow yang aku suguhkan.

Suatu kali, ada Sara juga. Di kelas tinggal empat orang, dan Sara duduk dibalik pilar. Entah kenapa, walaupun tidak dekat dengannya, walaupun tidak bisa melihat wajahnya, aku merasa bahagia bisa seruangan dengannya. Terasa gila, tetapi perkuliahan yang terpisah-pisah memang membuatku jarang bertemu Sara. Aku betah disitu, walaupun tanpa interaksi. Saat itu memang sudah lama tidak ada interaksi yang dalam dengannya. Dimulai dari sekitar jam 4 sore sampai jam 6 lebih, salah satu lagu yang diputar adalah Marcell – Peri Cintaku. Sayangnya aku tidak bisa melihat wajah Sara, aku ingin tahu reaksinya mendengar lagu ini. Walaupun, sepertinya ia terlihat tidak peduli.

Saat itu aku merasa, dengan melihat dari sikapnya, Sara tidak suka denganku. Apakah memang aku terlalu depresif untuk berkata demikian? Mungkin. Aku sudah melalui berbagai hal dengan Sara hingga saat ini, tetapi sikapnya saat ini menjadi berbeda. ia seperti ingin menjauhiku, tidak hangat. Atau istilahnya, dia sudah menarik garis batas antara aku dengannya.

Perkuliahan dan hal-hal lainnya tidak pernah begitu mempengaruhiku. Hal yang paling membuat perasaan, mood, dan motivasiku jatuh ke dasar jurang adalah masalah afeksi. Dengan kata lain, Sara. Perasaan itu, pemikiran bahwa ia menjauhiku, benci padaku, kesemuanya, entah kenapa menghasilkan reaksi formasi. Kembali aku jadi merasa membenci Sara. Aku ingin bilang, “I hate you!” padanya. Tapi di sisi lain, aku masih sangat menyukainya. Ironi atau paradox yang menyebalkan. Selalu seperti itu, aku kesal pada diriku sendiri. Seharusnya ini tidak ada hubungannya dengan Sara, aku menyakiti diriku sendiri. Aku tidak ingin seperti ini, tapi emosiku selalu punya caranya sendiri untuk menggerayangi pikiranku dengan sentuhan dingin dan jahat.

Dan, bipolar. Hari Jum’at di akhir-akhir November. Aku bermimpi, mimpi tentang Sara, dan itu sangat merubah moodku menjadi lebih baik, entah kenapa. Padahal hanya sebuah mimpi, aku benar-benar sakit.

Di mimpi itu, aku dan Sara duduk berhadap-hadapan, sepertinya di sebuah ruang kelas. Aku sedikit lupa tentang apa yang kami bicarakan, aku hanya ingat di akhir-akhir Sara seperti bilang kalau ia tidak mau bersamaku kalau aku tidak serius. Kemudian aku ingin membalas dengan berkata padanya, “Kamu menolak aku sebelum aku menyatakan.” Tetapi suaraku tidak keluar. Aku tahu kalau mimpi akan berakhir, dan aku belum sempat bicara. Ketika terbangun, aku menyesal karena tidak sempat mengatakan itu pada Sara. Sebenarnya, mimpinya tidak nyambung dengan apa yang sedang kualami. Tetapi, kata-kata yang ingin kusampaikan terakhir itu adalah kata-kata yang sebenarnya. Mungkin itu adalah sebuah fakta yang terus terngiang di pikiranku.

Efek mimpi itu cukup besar, walaupun seperti mimpi sedih, tapi aku bangun dengan segar sabtu pagi itu. Perasaanku menjadi lega dan lebih ringan. Apakah karena aku bisa melihat dan berbicara dengannya lagi secara dekat? Walaupun akhirnya hanya lewat mimpi. Atau karena aku memang ingin membicarakan segala perasaanku padanya secara serius?

Kemudian Sabtu siangnya aku melihat Sara di kampus, seperti biasa, perasaanku masih campur aduk, tapi tidak segila hari-hari sebelumnya. Lebih tenang. Pulang kuliah, aku ngopi bersama temanku. Aku bertanya padanya, bagaimana caranya untuk merepress perasaan ini, dan bahkan aku ingin menghilangkannya. Cara satu-satunya yang dianjurkannya adalah confession. Oh damn.

Akhir-akhir November ini aku masih bingung, tapi aku mencoba untuk membuat segala sesuatunya lebih mengalir. Dan arusnya lebih mengarah ke melepas dan menghilangkan semua perasaan ini. Biarlah. Semula aku sudah pernah mencoba melakukannya dan gagal, lalu aku membiarkan perasaan ini terus ada dan berusaha menikmatinya saja. Tetapi akhirnya malah terlalu menguasai emosiku, begitu melihat Sara, selalu ada dualisme, paradox, dan ironi. Jadi, kali ini aku benar-benar ingin mencoba menghilangkan perasaan ini, perlahan-lahan…

Cerita tambahan: Drawing Sara’s eye

Aku punya kebiasaan menggambar potret orang yang aku sukai. Karena, mereka adalah inspirasi seni yang terbaik. Saat segala perasaan dan emosi kepada orang tersebut menjadi maksimal. Sayang aku tidak punya foto Sara yang bagus, jadilah aku menggambar dari foto twitternya. Sayang sekali lagi, skillku sepertinya sudah jauh menurun. Aku sudah sangat jarang menggambar yang serius. Aku hanya menggambar bagian mata kirinya saja. Bagian favoritku. Aku merasa kurang mirip, tetapi sudahlah. Mari post di instagram dan path.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s