Sara (Bagian V) – Line Drama

Awal Desember menjadi sedikit lebih ringan kujalani. Aku cukup banyak sibuk dengan berbagai hal, seperti perkuliahan, menonton film, mendengarkan lagu, dan sebagainya. Namun, masih tetap ada Sara juga. Eksistensi Sara sudah menjadi bagian dari Life Space-ku. Ia hanya bergerak mendekat dan menjauh, tetapi masih tetap dalam dimensiku. Aku masih mencoba membuat jarak yang nyaman dengannya.

Ada beberapa kejadian yang menyenangkan di minggu-minggu awal Desember ini, sekaligus mengujiku juga apakah aku bisa terus mencoba menghilangkan perasaan ini dan tidak khilaf lagi. Salah satu kejadian itu adalah saat baru sampai di kampus dan aku melihat kunci motor Sara tergantung di motornya. Aku mengabarinya lewat line, lalu aku ke tempat dia berada untuk memberikan kunci tersebut. Aku hanya tersenyum dan memegang bahunya. Aku menahan diri dan tidak ingin tampak over excited, padahal sebetulnya aku bahagia sekali bisa berguna untuknya setelah sekian lama. Selain itu, aku juga akhirnya bisa mengobrol berdua cukup lama dengannya lagi setelah sekian lama.

Kemudian tentang Line, mungkin dimulai dari aku line dia sewaktu kunci motornya tertinggal, aku jadi mulai sering berkirim line dengan Sara. Di awal-awal sepertinya line-nya tampak lancar, responnya biasa dan cukup menyenangkan. Meskipun line dengan Sara bisa berjam-jam intervalnya. Sara sepertinya tipe yang tidak begitu sering online, tapi sejauh ini masih asik. Aku merasa kalau dari line mungkin kami bisa lebih saling mengenal dan dekat lagi, tentunya sebagai teman. Jujur, setelah semua ini, aku masih terus berusaha untuk lebih dekat dan mengenalnya tetapi dengan maksud menjadi teman baik. Ingat, aku dari awal memang sudah tidak punya ekpektasi selain menjadi temang baiknya saja.

Sampai akhirnya, jawaban line dari Sara mulai pendek-pendek dan lebih seperti interogasi polisi. Aku polisinya, dia penjahatnya. Mungkin karena pertanyaanku yang aneh dan terlalu pribadi. Tetapi, sebetulnya aku hanya ingin membuka topik saja. Sayangnya ia tidak pernah bertanya balik, sehingga satu pertanyaan tertutup langsung menutup. Aku tidak berani memberi pertanyaan terbuka, aku merasa kalau ia tidak akan mau menjawabnya. Istilahnya, aku masih meraba-raba dahulu dengan pertanyaan-pertanyaan pendek, dan respon yang kudapat jelas, she’s not interested in this conversation. Apalagi sempat responnya seperti yang terganggu. Last attempt, sewaktu natal, aku mengirim sebuah gambar dan direspon dengan sangat biasa. Well, line, it’s the end of the line.

Itu adalah line terakhir kami di bulan Desember. Sekaligus, semakin membuatku yakin kalau memang sudah sampai disini saja, lepaskan saja semua perasaan ini. Akhir Desember, tahun baru dan segala macamnya sampai masuk kuliah lagi, semua kulewati sambil berusaha untuk melepas perasaan ini sedikit demi sedikit.

Akhirnya kami bertemu lagi sewaktu kuliah. Sekitaran awal Januari. Saat bertemu pun hanya begitu saja, tersenyum biasa. Perasaan itu masih ada, membuatku semakin ingin segera menghilangkan perasaan ini. Sepertinya paling baik seperti itu. Aku berusaha untuk meniadakan rasa ingin mendekatinya. Tumpuklah segala kebencian, rasa tidak suka dan segala bentuk reaksi formasi dengannya. Eliminasi segala perasaan dan sensasinya, terutama sensasi visual dan audio yang sebisa mungkin diminimalkan. Pokoknya aku sudah tidak ingin menikmati perasaan ini. Sebetulnya, aku masih ingin berharap kalau nantinya setelah semua perasaanku hilang, aku akan bisa tetap menjadi teman dengannya. Tetapi, biarlah itu urusan takdir saja.

Tetapi takdir pun terkadang jahil, takdir ingin bermain lagi denganku. Saat kurasa perasaan ini mulai menipis, aku kembali diuji. Suatu hari di bulan Januari, saat kuliah aku melihatnya dalam keadaan yang manis sekali, rambutnya digelung ke atas, ekspresinya terkadang terlihat innocent dan sesekali melempar senyum yang manis, sial. Perasaan itu kembali berkelebat, seperti hiu-hiu yang berdatangan ketika mencium bau darah. Analogi yang terlalu dramatis. Saat itu juga aku sempat duduk sebelahan dengannya di angkot. Aku mencoba tidak peduli dan fokus ke jalan saja. Aku tidak ingin menatapnya dalam jarak sedekat itu.

Aku berpikir kembali tentang menyatakan perasaan kepadanya. Aku sepertinya tidak akan melakukannya, biarkan lewat begitu saja dan menjadi cerita yang tidak pernah tersampaikan. Saat ini, aku ingin meregulasi segala perasaanku dan saat semua hilang, mungkin aku bisa berbicara dengannya lagi seperti biasa, menatap wajahnya lagi dengan tanpa pembesaran di pupil mataku, dan membalas senyumnya dengan lebih tulus. Senyumnya yang membunuh itu.

Apakah semua akan lewat begitu saja? Dengan meninggalkan cerita dari satu sudut pandang?

Bagian V selesai.

Cerita tambahan: Lagu-lagu.

Setiap cerita selalu diiringi oleh lagu. Lagu-lagu ini adalah lagu-lagu yang memiliki makna dan emosi tentang Sara. Mulai dari Ellegarden – A Thousand Smiles, Marcell – Peri Cintaku, Ed Sheeran – Thinking Out Loud, Robbie Williams – She’s The One, dan beberapa lagi. Tetapi satu yang spesial, Sara Bareilles – Brave. Ketika kami sedang kerja kelompok di kosan temanku, kami mendengar lagu ini. We listened to it from the radio. I asked “Who’s the singer of this song?” She answered “Sara Bareilles” I asked again “What’s the title?” “Brave” she answered. From then on, this is Sara’s soundtrack, be reminded of her when hear this song someday. Let it be beautiful. And when it come to the end of this story, this song again means so much. I have to be brave.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s