Sara (Bagian VI) – I Don’t Know. Lightning Could Strike.

Sara Bareilles – Brave, well, this Sara is brave as well.

Sweater biru dongker. Seingatku, baru hari ini kami memakai baju senada, sweater biru dongker. Hari itu juga potongan rambutnya adalah favoritku, diikat dengan menyisakan sedikit poni di bagian samping keningnya. Picture perfect. Semula aku mengira hari itu akan berakhir begitu saja saat pulang kuliah. Aku naik motor dibonceng oleh temanku dan tanpa diduga kami berpapasan dengan Sara dan teman-temannya yang sedang berjalan kaki. God, kill me -aku tidak tau kenapa aku berpikir demikian-. Aku menatapnya, dia juga sepertinya menatapku. Aku hanya mengangkat tanganku, bermaksud melambai, dan aku tidak ingat seperti apa ekspresiku saat itu. Feels awkward. Tapi, ternyata pertemuan ini bukan pertemuan biasa, maybe it triggered something in her.

Ketika sore datang, datanglah pula line dari Sara. Saat itu pukul 18.25. Aku berusaha tenang, padahal aku sibuk memegangi jantungku yang seakan mau copot. Line pembuka darinya sebenarnya biasa saja, dia bertanya apakah aku sedang sibuk atau tidak. Aku jawab tidak, sedang santai. Yang sebetulnya menjadi tidak santai lagi karena line dari kamu, ujarku dalam hati.

Selanjutnya, Sara bertanya kenapa belakangan ini aku sepertinya jadi berbeda terhadap dirinya. Dia ingin bisa tetap berteman dengaku seperti dengan yang lainnya. Oh my… aku selalu berpikir kalau sepertinya dia didn’t give a damn at all about me.. jadi awalnya aku ingin semua biarlah berlalu begitu saja sampai perasaan ini hilang.. tapi.. there she goes.. Akhirnya, aku memberi tahu kalau memang aku bersikap berbeda pada dirinya. Aku memberi tahu secara tidak langsung kalau aku memang memiliki suatu perasaan padanya. Lalu, untuk memperjelas semua, kita akan berbicara keesokan harinya. Aku belum tahu akan bicara kapan, dimana, dan bagaimana… Tetapi aku memang ingin agar semua beres, tanpa ada teman kuliah kami yang tahu. That’s it.

Aku menjadi sadar ketika sedang line, bahwa aku memang merasa bahwa diriku ini benar-benar seperti abg labil, pengecut, dan langsung bingung, panik dan tidak tahu mau apa ketika akhirnya aku bilang kepadanya secara tidak langsung, dan akan memperjelasnya esok harinya. Aku deg-degan dan tidak bisa diam, aku berjalan memutar-mutar di dalam kamar kosku. Pathetic. Confession is tricky, always that way for me. Wonder why…

Seharusnya aku tahu kalau pada akhirnya kami hanya akan berbicara yang berujung pada, let’s become a good friend from now… Tapi, aku tidak tahu akan seperti apa mukaku nanti, will there be stutter, babbling, or what? Ahhhh….

Well.. she’s indeed a brave woman, untuk langsung bertanya padaku, yah walaupun hanya lewat line.. padahal aku berharap kalau ia akan bertanya langsung.. ketika kami berjalan di koridor di kampus, ketika kami sedang duduk di ruang kelas, atau ketika kami secara kebetulan bertemu di suatu tempat, suatu waktu, suatu situasi… but, it’s fine like this.

Now let’s wait till tomorrow and see.

Bagian VI selesai.

 

Cerita tambahan: Irony.

Well, I would say that she’s an irony. She’s perfect, but at the same time not. Why? Because of the irony, a perfect girl who can’t be mine. It means that there is flaw. But isn’t it what makes it perfect? The flaw? That’s the beauty of perfectness. Perfect only a hypothetical terms, which constructed by someone who said it. When something fulfill all your subjective expectations, that’s perfect for me. And, is she still perfect? Oh I say yes. She’s perfect. Confused? Perfect!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s