Sara (Bagian VII) – Confession

Tomorrow came, and damn Sara, you makes me smoke like an idiot.

23 Januari 2015. The confession, aku bersyukur kalau akhirnya telah menyatakan perasaanku padanya.

Pagi hari itu aku sudah merokok banyak. Mencari inspirasi dan encouragement dengan mendengarkan lagu-lagu, menonton film dan sebagainya. Well, the clock is ticking, gotta go to campus and meet her. I put on my best suit, celana chino hijau tua dan baju giordano biru donker, dipadu sweater biru donker 347, kombinasi terbaik sejauh ini.

Datang ke kampus dan masuk kuliah. Ada perasaan tegang berkecamuk, aku banyak bergerak tidak penting sepanjang hari. Namun, ternyata tidak ada kesempatan sewaktu di kampus. Sara lebih banyak duduk dan jarang keluar kelas. Jadi aku hanya sempat tersenyum kepadanya di pagi hari. Lalu, ketika ujian dia sempat bertanya bagaimana dengan nilai mata kuliahku yang baru keluar. Hanya itu. Akhirnya, waktu pulang aku bilang kepada Sara kalau nanti saja kita bicaranya. Memang saat itu aku bareng temanku ke kampus, jadi harus pulang duluan ketika ia ingin pulang. Setelahnya, sampai di kosan, Sara mengirim line dan bilang kalau aku sebaiknya santai saja dan bisa membicarakannya lewat line atau di lain hari. Well, it’s a big no, aku akhirnya mengusulkan untuk bertemu.

Kami akhirnya bertemu di tempat fotokopi karena kebetulan Sara sedang memfotokopi sebuah buku. Aku tidak bisa langsung berbicara dengannya, suasananya terasa kurang tepat. Kami pun akhirnya mengobrol biasa. Kebetulan saat itu hujan, kami menunggunya reda sambil memutuskan mau pindah kemana untuk bicara. Jika dipikir-pikir, mungkin ini pertama kali lagi kami mengobrol cukup panjang berdua, setelah sekian lama.

Hujan reda, kami pindah ke sebuah tempat makan. Di sini kami makan dulu, dia pesan mie goreng cumi dan aku pesan nasi goreng biasa. Makanannya enak. Di sini juga kami hanya mengobrol masalah biasa, belum menyentuh ke apa yang benar-benar ingin kami bicarakan. Setelah selesai makan, aku mengusulkan untuk pindah ke café karena memang suasana di sini juga kurang enak. Kami pun pindah.

Saat itu sekitar pukul lima sore lebih. Kami duduk, memesan dan mengobrol sedikit sampai pesanan datang. Pesanan datang, and here we go. Agar lebih santai, aku sedikit bercanda-bercanda dengannya. Saat itu suasana sudah cair, dan Sara pun terlihat sangat santai, tetapi tetap saja lidah ini kelu. Entah kenapa, rasanya malu. Hesitation and anxiety arose. There’s a moment of silence also.

Akhirnya aku menyatakan dalam bahasa Inggris agar aku bisa merasa lebih santai, bahasa Inggris yang sedikit kacau “So why I act strange earlier.. is.. because I like you so much…

And… she’s laughing. Damn. Ia bilang kalau dugaannya benar… lalu kami pun berbicara mengenai hal itu lebih jauh, dia memang sudah menduga dan merasakan itu sekitaran bulan Desember atau November. Aku banyak bertingkah yang tidak biasa, cara interaksi yang beda, tiba-tiba mengirim line yang pribadi, ah yah.. Dia dilema antara tetap bersikap baik tapi takut memberi harapan.. Sara mencoba mengerti mengenai perasaanku ini… Yah, kami meluruskan beberapa hal… Intinya, aku sudah lega… masalah yang tersisa, hanya perasaan yang tersisa ini, yang aku tidak tahu mau diapakan. Pikirkan nanti saja.

Memang Sara spesial, aku senang sekali bisa mengobrol lagi dengan dia, cukup lama pula… tidak ada perasaan berat yang tersisa ternyata, hanya ada lega dan senang, semoga bisa begini terus… aku juga bilang kalau dari dulu aku memang menganggap ia seseorang yang enak diajak berteman dan aku tidak ingin kehilangan teman seperti itu… well, I rarely say that to someone, so she’s indeed a good friend to begin with. Aku memang sedikit pemilih kalau urusan teman, apalagi teman dekat, dan aku memang benar-benar ingin menjadi teman dekat Sara.

Setelah usai berbicara cukup panjang lebar, sekitar jam 18.49 kami pergi dari café itu, menyisakan dua gelas kosong yang menjadi saksi bisu pembicaraan kami, dua gelas yang semula berisi long black dan piccolo latte. Well, thanks to this café for gave me place to make a special memory with Sara.

Sara, kukatakan sekali lagi, dia spesial. Sedikit hal yang aku bangga dengan diriku, aku memang tidak pernah salah memilih wanita, ehem..

End of the story? Well, I don’t really know. The feeling still there and I don’t know what to do next. No further communication til this day, 27 January 2015.

Anyway, Bagian VII, done.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s