Sara (Bagian VIII) – Terminasi

Trauma, adalah ketika suatu kejadian memiliki dampak yang besar secara emosional sehingga apapun yang berkaitan dengan kejadian tersebut akan memicu reaksi emosi negatif dari diri seorang individu.” (Satriajati, 2015)

Ok, kenapa trauma? Jadi ketika seseorang jatuh cinta dan mengalami hal yang berdampak besar secara emosional maka akan menimbulkan trauma. Putus cinta, patah hati, kasih tak sampai, name it, semuanya menyebabkan trauma. Move on? Secara sederhana berarti anda telah sembuh dari trauma itu, sudah tidak ada emosi negatif yang muncul ketika mengingat atau bertemu dengan segala hal yang berhubungan dengan orang yang sempat anda cintai, sudah tidak ada emosi negatif yang muncul dan mengganggu kehidupan anda sehari-hari. That’s move on.

Saya sudah move on dari Sara sekarang. How? Let me tell you…

Setelah menyatakan perasaan, kemudian saya menjadi bingung karena tidak ada terminasi yang jelas. Memang seperti itu, saya lega tetapi tidak tahu mau bersikap bagaimana dengannya. Akhirnya, sama seperti kebanyakan orang bingung yang tolol, diam menjadi pilihan terbaik. Kebetulan karena sedang libur maka kami jarang bertemu di kampus. Jadi walaupun bingung dan diam, rasanya tidak ada pengaruhnya. Sampai tiba-tiba teman saya mengajak naik gunung. Sara juga diajak.

Semakin bingung, saya menolak ajakan itu. Namun karena bingung juga, akhirnya di menit-menit terakhir saya memutuskan ikut.

Saya malas memastikan, tetapi ada sekitar 10 orang yang ikut. Gunung yang kami tuju tidak terlalu jauh, yaitu Jayagiri di Lembang. Saya bukan ahli gunung-gunungan tapi mungkin itu bukan gunung, lebih tepat disebut bukit. Kami naik sore-sore dan menginap satu hari dengan tenda. Perjalanan yang menyenangkan dan menyehatkan (capek berat dan membuat saya sadar untuk lebih rajin olahraga nanti). Interaksi dengan Sara biasa saja, mengobrol biasa saja, bercanda biasa saja, seperti teman biasa saja pokoknya. Malam hari pun menyenangkan, kami menyalakan api unggun, masak dan makan. Hingga akhirnya kami berkumpul di satu tenda dan bermain Truth or Dare. Permainan terkutuk ini seharusnya menyenangkan, tapi ketika permainan berubah menjadi “harus memilih Truth” dan mereka bertanya siapa wanita yang paling saya sukai di angkatan kami, saya berharap saya bisa balik ke masa lalu dan meracun pencipta permainan ini.

Sebenarnya saya sudah cemas ketika seorang teman saya diberi pertanyaan siapa yang paling ia sukai di angkatan. Sempat terpikir untuk jujur saja pada teman-teman. Namun, ketika Sara juga ditanyakan pertanyaan ini dan ia menjawab kalau yang paling disukainya adalah bukan saya tapi orang lain (teman saya yang juga ada disitu), saya memantapkan niat untuk ngeles. Isu cinta segitiga akan sangat menyebalkan mengingat kami masih akan bersama-sama untuk satu hari besok.

Giliran saya menjawab tiba, dan benar saja, pertanyaan itu yang diajukan. Saya belum menemukan jawaban yang oke untuk ngeles. Jadi, setelah saya hah-hoh-hah-hoh seperti orang idiot. Saya sebutkan saja nama seorang teman saya yang secara fisik menurut saya sangat ideal. Done, tanpa banyak komentar mereka puas. Maaf Sara, mungkin saya tidak sejantan itu untuk jujur, tapi percayalah ini demi kebaikan kita dan hiking ini. Mungkin.

Di perjalanan pulang, saya duduk di sebelah Sara di mobil, di bangku paling belakang. Sebenarnya kami duduk bertiga di belakang, tetapi what the hell lah, mungkin ini kesempatan terakhir bisa mengobrol sedekat ini dengan Sara. Jadi, saya mengabaikan satu teman saya itu dan kami berdua mengobrol cukup lama. Saat mengobrol saya sempat bilang padanya kalau saya menulis mengenai dirinya dan meminta ijin padanya untuk mem-publish di blog saya. Ia mengijinkan dan saya juga berharap mungkin ia mau membacanya jika ada waktu. Momen ini ternyata memang menjadi momen kedekatan terakhir saya dengannya, at least sampai tulisan ini dibuat. Suatu momen yang cukup emosional dan bisa digambarkan dengan cukup baik lewat kutipan dari penulis favorit saya, Haruki Murakami:

“Our faces were no more than ten inches apart, but she was light-years away from me.” Seperti itu rasanya, dan setelah kami berpisah hari itu, Sara benar-benar sudah berada di galaksi yang berbeda dari galaksi kehidupanku.

Selain karena keadaan yang memang membuat saya jarang bertemu dengannya, saya juga memang ingin meminimalisir segala bentuk interaksi dengannya. Meskipun begitu, masih terbersit keinginan untuk mengintip ke kelasnya (saat ini kami sudah beda kelas kuliah) atau bertemu secara tidak sengaja di lorong. No point of doing this actually. Mungkin hanya perasaan yang tersisa, tidak menimbulkan distress dan hanya membawa kesenangan yang sederhana ketika melakukannya. Seiring waktu, perkuliahan cukup menyita waktu dan pikiran sehingga aku mulai jarang memikirkan Sara. Teman-temanku di kelas ini juga cukup menyenangkan. Perasaan pada Sara pun mulai terkikis, perlahan tapi pasti. Hingga akhirnya, kelas saya ada semacam kuliah praktek ke Rumah Sakit Jiwa di Malang. Dengan mindset piknik dan bersenang-senang, saya menikmati waktu saya disana. Saya tidak ingin banyak berpikir yang sulit, ketika ada berbagai kejadian, ketika ada suatu perhatian dari seseorang, dan ketika rasanya nyaman, rasanya tidak apa kalau saya menganggapnya sebagai suatu afek. Meskipun subjektif, tapi siapa peduli.

Sederhana dan klasik memang. Waktu dan adanya sumber afek lain akhirnya membuat saya move on dari Sara. Move on dengan sedikit usaha karena memang saya tidak dengan sengaja berusaha keras untuk move on. Move on is overated for me anyway, it happens when it meant to happens. Sampai saatnya tiba, nikmati saja segala melankolisme dan sensasi-sensasi sakit di dada yang seringkali dirasakan, tidak usah dipaksakan.

Bagaimana saya tahu saya sudah move on? Jadi, beberapa bulan setelah saya bilang kalau saya membuat tulisan di blog tentang Sara, Sara memberitahu kalau ia sudah membaca tulisan saya. Saat itu saya di kampus dan sedang tegang menunggu giliran untuk ujian lisan. Sara berkata kalau tulisan saya bagus dan ia meminta maaf kalau ada hal-hal yang membuat saya down. Saat itu bahkan saya tidak konsentrasi dengan kata-kata Sara, saya fokus pada ujian dan hanya menjawab seperlunya pada Sara. Jika hal ini terjadi beberapa bulan yang lalu, saya yakin konsentrasi saya pada ujian akan pecah. Ini tidak terjadi, tidak ada emosi lain yang bangkit, dan fokus saya hanya pada ujian.

Setidaknya, dari kejadian itu saya yakin saya sudah move on dari Sara. Di dalam kepala ini, kognisi ini, Sara sudah menjadi sebuah konsep, bagaikan sebuah cetak biru tentang seorang wanita yang ideal dan saya sukai, juga seorang teman yang baik. Tidak membangkitkan afeksi dan emosi yang dulu dirasakan ketika berinteraksi.

Entah apakah cerita ini akan berlanjut atau tidak, tetapi besar kemungkinan akan berakhir disini. Rasanya seperti sebuah kisah yang sudah lama, saat menuliskannya pun banyak detil yang sudah terlupakan. Ingatan manusia memang rapuh dan luntur seiring waktu, oleh karena itu lah saya menuliskan kenangan berharga ini. Ketika di masa depan saya membacanya lagi, teringat kembali masa itu dan tersenyum karenanya. Aku akan berterimakasih pada Sara.

n.b.

tulisan ini ada karena rikues dari teman saya yang merasa kalau saga ini endingnya terlalu menggantung, dan karena menurut dia akan sangat bermanfaat kalau saya menulis bagaimana bisa move on, karena sesungguhnya teman saya ini baru putus dari pacarnya.

penggantian kata aku menjadi saya juga atas rikues teman saya yang satunya lagi, saya lupa alasannya kenapa, tapi ya sudahlah ya, semoga jadi lebih enak dibaca.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s