fire escape.

fire escape

Sudah sekitar 2 minggu aku mencoba menjadi social smoker. Hanya merokok ketika sedang berkumpul bersama teman, atau minimal sedang bersama teman, merokok bersama. Tapi aku masih membuat suatu kondisi yang membolehkanku merokok sendirian, yaitu ketika sedang ingin berpikir keras dan membutuhkan sedikit suntikan nikotin untuk membantu berpikir. And of course when I feel like celebrating something.

Dengan kata lain, aku ingin rokok menjadi sesuatu yang konstruktif, sesuai dosis dan tidak sia-sia. Membuat berkumpul bersama teman menjadi lebih nikmat, merayakan sesuatu, dan membantu dalam berpikir.

Semula aku merokok karena stres atau kesepian, atau iseng. Mungkin itu karena pertama kali aku merokok adalah karena aku baru putus cinta. Jadinya kesananya juga rokok menjadi teman ketika melewati waktu-waktu yang sentimentil dan melankolis.

Lalu suatu waktu aku merasa muak dengan bau nafasku sendiri, aku takut bau ini akan terus bertambah jika aku tidak mengendalikan perilaku merokok ini. Aku pun berniat menguranginya. Dan ketika itu juga, tidak berapa lama, aku ngobrol dengan seseorang yang aku sayangi dan dia berkata kalau ia secara subjektif tidak suka dengan perokok. Seperti setiap perkataan dari significant person, her words linger on my head.

Aku kemudian berpikir, memang aku selama ini selalu menganggap rokok sebagai teman. Teman sejati yang ada menemani saat-saat berat maupun ringan. Memberikan suatu ilusi afeksi yang menenangkan pikiran dan hati. Meskipun bersifat sementara dan delusional, but it works. Aku tidak pernah merasa kesepian ketika sedang mengisap rokok. Hal ini yang membuat mengurangi merokok menjadi berat.

And then I realized. Jika memang aku menganggap rokok sebagai teman. Kenapa sering aku manfaatkan ketika susah saja? Dia sudah menemaniku di saat-saat sedih dan sebagainya. Aku seharusnya memperlakukan rokok dengan lebih respek. Jadi, mari kita merokok di saat-saat menyenangkan, saat-saat jaya.

Lebih dari itu, aku juga merasa lemah. Sebelumnya aku pernah menulis: “Smoking is for weak people, but basically people are weak.” Tapi, sekarang aku ingin menjadi lebih kuat. Jika aku terus mengandalkan rokok, aku merasa akan semakin lemah. Aku harus bisa bertahan tanpa rokok.

Memang selama ini aku tidak merokok sebanyak perokok lain yang sudah addict. Tetapi banyaknya merokok sebetulnya tidak pernah menjadi masalah prinsipil. But to be in control, merokok dengan kesadaran penuh tanpa menjadi lemah karenanya adalah yang penting.

So, let us smoke with responsibility, pride, and dignity!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s