Overconfidence, optimism, or a mere good intention

Sometime in our life, we fall in a deep hole of one-sided love. From bottom of the hole, we look up, we stare at someone we love. She looks happy, sad, or whatever state she’s in. And, we feel like: damn love, wish I could be there, beside you, I’ll make you the happiest person in the world.

The thing is, is it a form of overconfidence, optimism, or a mere good intention? Human is a complicated being. Now you think that you know her well, and you think you know how to treat her right, you think that you’re the most capable man to make her happy. But, unfortunately you’re wrong, things could change fast. You try to did your best, but she’s not as beautiful as someone you see from the hole. She’s unfortunately a bitch, mad and cry all the time. You feel that you failed to make her happy. You’re confused and the moment you become her lover is the instant you become desperately want to go back to the hole.

Well, I only talk about a possibility. This is not experience based also. Not all of your, say, confidence, optimism, or good intention become fail. Maybe you’ll really make her happy, the moment you get out from one-sided love and become her lover.

What I want to say is, love come in many ways, so it could give in many ways too. One-sided love too has a certain way of how to give love to her. Not always by trying to be her man. If your aim is to make her happy, then think of something. Something could make she smile. I’m not an altruism believer, so, make sure your aim worth enough for you. If her smile is something worth, then it is.

One-sided love is beautiful, a beautiful disaster..

Advertisements

tentang cerita sara

Sara bukanlah nama sebenarnya, tapi dia nyata, ada beneran. Dan akhirnya, setelah berbicara dengan yang bersangkutan aku bisa publish cerita ini dengan tenang. Informed consent :p Ya sebetulnya toh bakal ga ada yang baca juga, haha.. tapi seenggaknya aku sedikit berharap sih kalo bakal dibaca sama Sara yang asli, hehe..

Oke jadi cerita ini lebih kaya’ kronologis seputar perasaanku yang naik turun kepada Sara, lebih ke sudut pandangku sendiri dan kebanyakan akan berupa curhat. Lebih seperti mengumbar aib sendiri sebetulnya, agak memalukan, tapi biarlah.

Tulisan ini dibuat dengan banyak merekonstruksi dari jurnal yang kubuat sebelumnya, jadi kaya’ merangkum dari catatan-catatan harian yang bahasanya masih kacau. Mohon dimaklumi kalau bahasanya kurang diperindah dan agak berantakan, karena dibuatnya juga cukup ekspress, yaitu empat hari. Sebenarnya semua selesai dalam dua hari, tapi masih aku revisi2 sedikit. Maka bereslah tujuh chapter ini, pada tanggal 27 Januari, yang masing-masing chapter ada sekitar dua halaman word.

Kenapa buru-buru? Jadi sehari setelah menyatakan itu, aku langsung ingin menuliskan cerita ini sampai selesai karena pengalaman ini benar-benar berarti untukku. Aku harus segera menuliskan ke dalam suatu bentuk cerita yang utuh sewaktu aku masih memiliki perasaan ini pada Sara. Biar masih kerasa emosinya. Aku pribadi sih cukup puas dengan hasilnya.

And here we go. Enjoy..

Sara (Bagian VII) – Confession

Tomorrow came, and damn Sara, you makes me smoke like an idiot.

23 Januari 2015. The confession, aku bersyukur kalau akhirnya telah menyatakan perasaanku padanya.

Pagi hari itu aku sudah merokok banyak. Mencari inspirasi dan encouragement dengan mendengarkan lagu-lagu, menonton film dan sebagainya. Well, the clock is ticking, gotta go to campus and meet her. I put on my best suit, celana chino hijau tua dan baju giordano biru donker, dipadu sweater biru donker 347, kombinasi terbaik sejauh ini.

Datang ke kampus dan masuk kuliah. Ada perasaan tegang berkecamuk, aku banyak bergerak tidak penting sepanjang hari. Namun, ternyata tidak ada kesempatan sewaktu di kampus. Sara lebih banyak duduk dan jarang keluar kelas. Jadi aku hanya sempat tersenyum kepadanya di pagi hari. Lalu, ketika ujian dia sempat bertanya bagaimana dengan nilai mata kuliahku yang baru keluar. Hanya itu. Akhirnya, waktu pulang aku bilang kepada Sara kalau nanti saja kita bicaranya. Memang saat itu aku bareng temanku ke kampus, jadi harus pulang duluan ketika ia ingin pulang. Setelahnya, sampai di kosan, Sara mengirim line dan bilang kalau aku sebaiknya santai saja dan bisa membicarakannya lewat line atau di lain hari. Well, it’s a big no, aku akhirnya mengusulkan untuk bertemu.

Continue reading

Sara (Bagian VI) – I Don’t Know. Lightning Could Strike.

Sara Bareilles – Brave, well, this Sara is brave as well.

Sweater biru dongker. Seingatku, baru hari ini kami memakai baju senada, sweater biru dongker. Hari itu juga potongan rambutnya adalah favoritku, diikat dengan menyisakan sedikit poni di bagian samping keningnya. Picture perfect. Semula aku mengira hari itu akan berakhir begitu saja saat pulang kuliah. Aku naik motor dibonceng oleh temanku dan tanpa diduga kami berpapasan dengan Sara dan teman-temannya yang sedang berjalan kaki. God, kill me -aku tidak tau kenapa aku berpikir demikian-. Aku menatapnya, dia juga sepertinya menatapku. Aku hanya mengangkat tanganku, bermaksud melambai, dan aku tidak ingat seperti apa ekspresiku saat itu. Feels awkward. Tapi, ternyata pertemuan ini bukan pertemuan biasa, maybe it triggered something in her.

Ketika sore datang, datanglah pula line dari Sara. Saat itu pukul 18.25. Aku berusaha tenang, padahal aku sibuk memegangi jantungku yang seakan mau copot. Line pembuka darinya sebenarnya biasa saja, dia bertanya apakah aku sedang sibuk atau tidak. Aku jawab tidak, sedang santai. Yang sebetulnya menjadi tidak santai lagi karena line dari kamu, ujarku dalam hati.

Continue reading

Sara (Bagian V) – Line Drama

Awal Desember menjadi sedikit lebih ringan kujalani. Aku cukup banyak sibuk dengan berbagai hal, seperti perkuliahan, menonton film, mendengarkan lagu, dan sebagainya. Namun, masih tetap ada Sara juga. Eksistensi Sara sudah menjadi bagian dari Life Space-ku. Ia hanya bergerak mendekat dan menjauh, tetapi masih tetap dalam dimensiku. Aku masih mencoba membuat jarak yang nyaman dengannya.

Ada beberapa kejadian yang menyenangkan di minggu-minggu awal Desember ini, sekaligus mengujiku juga apakah aku bisa terus mencoba menghilangkan perasaan ini dan tidak khilaf lagi. Salah satu kejadian itu adalah saat baru sampai di kampus dan aku melihat kunci motor Sara tergantung di motornya. Aku mengabarinya lewat line, lalu aku ke tempat dia berada untuk memberikan kunci tersebut. Aku hanya tersenyum dan memegang bahunya. Aku menahan diri dan tidak ingin tampak over excited, padahal sebetulnya aku bahagia sekali bisa berguna untuknya setelah sekian lama. Selain itu, aku juga akhirnya bisa mengobrol berdua cukup lama dengannya lagi setelah sekian lama.

Kemudian tentang Line, mungkin dimulai dari aku line dia sewaktu kunci motornya tertinggal, aku jadi mulai sering berkirim line dengan Sara. Di awal-awal sepertinya line-nya tampak lancar, responnya biasa dan cukup menyenangkan. Meskipun line dengan Sara bisa berjam-jam intervalnya. Sara sepertinya tipe yang tidak begitu sering online, tapi sejauh ini masih asik. Aku merasa kalau dari line mungkin kami bisa lebih saling mengenal dan dekat lagi, tentunya sebagai teman. Jujur, setelah semua ini, aku masih terus berusaha untuk lebih dekat dan mengenalnya tetapi dengan maksud menjadi teman baik. Ingat, aku dari awal memang sudah tidak punya ekpektasi selain menjadi temang baiknya saja.

Continue reading

Sara (Bagian IV) – Freakshow, Paradox and Bipolar

Mungkin kami sama-sama sedang saling menahan perasaan ragu atau cemas ketika bertemu satu sama lain. Atau mungkin ia tidak merasakan apa-apa sama sekali dan aku heboh sendiri dengan segala perasaanku. Aku belum tahu. Yang jelas, akhir november ini segalanya tampak lebih suram lagi. Lagu-lagu galau, cuaca mendung, dan perasaan nelangsa.

Akhir-akhir ini di kelas aku sering diam sampai sore, bahkan ketika orang-orang sudah pulang. Sebenarnya terkadang aku mengerjakan tugas, tetapi lebih sering memutar lagu-lagu galau keras-keras di laptop dan kadang ikut bernyanyi. Seperti saat itu, aku duduk di meja dosen, memutar lagu galau dan mellow Indonesia era 2000-an dengan volume keras sambil sesekali menyanyi bersama beberapa temanku yang juga bertahan di kelas. Menikmati freakshow yang aku suguhkan.

Suatu kali, ada Sara juga. Di kelas tinggal empat orang, dan Sara duduk dibalik pilar. Entah kenapa, walaupun tidak dekat dengannya, walaupun tidak bisa melihat wajahnya, aku merasa bahagia bisa seruangan dengannya. Terasa gila, tetapi perkuliahan yang terpisah-pisah memang membuatku jarang bertemu Sara. Aku betah disitu, walaupun tanpa interaksi. Saat itu memang sudah lama tidak ada interaksi yang dalam dengannya. Dimulai dari sekitar jam 4 sore sampai jam 6 lebih, salah satu lagu yang diputar adalah Marcell – Peri Cintaku. Sayangnya aku tidak bisa melihat wajah Sara, aku ingin tahu reaksinya mendengar lagu ini. Walaupun, sepertinya ia terlihat tidak peduli.

Continue reading

Sara (Bagian III) – Khilaf, Labil, dan Childish

Masa tenang, dapat dikatakan begitu. Akhir Oktober dan awal November aku masih bisa membawa santai diriku. Namun, semua mulai berubah lagi, perasaan dan emosi adalah sesuatu yang dinamis. Aku adalah tetap orang yang sama, dan Sara adalah Sara, tetapi mungkin justru karena itu. Kami adalah manusia.

Di dalam hati ini, aku gagal menghilangkan perasaanku pada Sara. Perasaan itu masih terus ada. Aku masih menyimpannya dan tidak ada teman kampusku yang tahu. Namun, aku tidak benar-benar memendam semuanya sendirian. Aku berbicara mengenai hal ini dengan seorang temanku, yang bukan berasal dari kampusku, dan meminta saran padanya. Apa yang dia sarankan terlalu sulit untuk dilakukan, unconditional positive regard for love. Jadi, aku harus bisa melihat Sara tanpa ada prasangka dan tuntutan, lalu memberikan cinta begitu saja dengan tulus. Aku menarik nafas panjang, tidak perlu seekstrim itu, aku akan bergerak pelan-pelan dan melihat apakah aku memang bisa memberi cinta tetapi hanya sebagai teman. Hal yang sulit, semua wanita pastinya akan mengira kalau aku sedang mendekatinya, tetapi aku mencoba.

Mencoba? Aku sepertinya terlalu sering khilaf untuk hal itu. Sehari sebelum pengambilan data di kampus, sekitar tanggal 26 Oktober, aku mengirim pesan lewat line untuk Sara. Seingatku, itu pesan pribadi pertama. Aku meminta motivasi dari dia, karena biar bagaimanapun dia adalah orang yang paling bisa memotivasiku. Tentang pengambilan data sendiri sebenarnya aku tidak merasa ada masalah, aku hanya merasa ini waktu yang tepat untuk mengirim line untuk Sara. Khilaf kan? Menginginkan kesenangan untuk diri sendiri. Untungnya line dengan Sara berjalan cukup lancar.

Continue reading